EnglishIndonesia
Irfan, Calon Guru dari Sekolah yang Hampir Roboh
08
Aug

Ingin jadi guru, ingin berbagi ilmu sama murid-murid
-Irfan-

Dari sekian banyak pilihan profesi, Irfan (9) memilih bercita-cita menjadi seorang guru. Menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, jalan Irfan untuk meraih cita-citanya tidak mudah. Irfan harus belajar di ruang kelas yang hampir roboh dengan atap dan tembok berlubang di mana-mana.

Nama lengkapnya Muhammad Irfansyah. Irfan adalah siswa kelas 4 SD Sampang di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Karena butuh waktu 30 menit untuk Irfan jika berjalan kaki sampai ke sekolah, orang tua Irfan akhirnya menggunakan fasilitas antar jemput yang disediakan sekolah. Saat pendaftaran siswa baru, sekolah juga menyediakan ongkos pengganti transportasi bagi orang tua. Kemewahan? Sama sekali bukan.

Semua fasilitas tersebut adalah upaya pihak sekolah agar orang tua tetap mau menyekolahkan anaknya ke SD Sampang di tengah kerusakan yang terjadi di hampir semua bagian kelas. Di kelas 4, Irfan hanya bersama dengan 4 orang teman. Total siswa di SD Sampang 45 anak. Mereka bahkan sama sekali tidak punya siswa di kelas 6.

Minimnya siswa di SD Sampang tersebut menjadi alasan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Serang untuk menutup mata dan telinga. Pemerintah tidak peduli pada Irfan yang merasa ketakutan sekolahnya akan roboh ketika hujan dan angin kencang. Suara hati Irfan tidak bermakna apa-apa.

“Kalau tiba-tiba sekolahnya roboh, kami nanti tidak punya sekolah lagi”
-Irfan-

Dukung YAPPIKA untuk membantu Irfan mendapatkan ruang kelas yang aman dan nyaman untuk menggapai cita-citanya!

Satu-satunya cara untuk membuat perubahan menjadi nyata adalah dengan bertindak!

Haruskah sekolah menjadi pertaruhan hidup dan mati?

DONASITANDA TANGAN PETISI