EnglishIndonesia

Berita Terkini

24
Nov

KODE ETIK FILANTROPI

Tanggal 18 November 2009 lalu, YAPPIKA menghadiri diskusi terfokus mengenai standar dan kode etik filantropi Indonesia yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI). Diskusi ini dilatarbelakangi oleh maraknya filantropi di Indonesia yang dilakukan oleh media massa, lembaga zakat, LSM baik nasional maupun internasional serta perusahaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Bencana alam, kelaparan dan pendidikan adalah tiga isu yang sering disasar oleh para pelaku filantropi. Persoalan transparansi dan akuntabilitas program-program yang menggunakan pendanaan dari upaya filantropi sering menjadi perbincangan. Demikian pula pemanfaatan dan CSR oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial atau dijadikan bagian dari promosi perusahaan.

Dalam diskusi tersebut dihasilkan beberapa poin penting, di antaranya adalah kode etik filantropi perlu ada untuk menjadi rujukan yang mengikat anggota PFI dalam melakukan filantropi, kode etik sebaiknya dibuat simple untuk menghindari kekakuan agar filantropi terus berkembang di Indonesia, perlu dibentuk semacam forum etik yang berisi orang-orang yang kompeten dalam hal filantropi untuk memberikan pandangan ‘bijak’ ketika terjadi persoalan di anggota pada saat melakukan upaya filantropi, perlu dipikirkan untuk mengembangkan question of ethic guna mendorong etika filantropi yang lebih bernuansa proaktif. Diskusi tersebut cukup menarik untuk membuka wawasan tentang praktek-praktek filantropi berikut persoalan-persoalan yang ada di dalamnya. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa filantropi penting dikembangkan oleh organisasi masyarakat sipil (OMS) guna mendukung kemandirian dan independensi dalam rangka menumbuhkan daya kritis masyarakat untuk menjalankan fungsi kontrol guna perubahan sosial yang lebih baik. Dalam hal ini, sumbangan publik dalam bentuk dana maupun inkind merupakan energi dahsyat untuk menggerakkan fungsi-fungsi OMS yang lebih sehat.