EnglishIndonesia

Berita Terkini

25
Apr

TINGGI, ANGKA PEREMPUAN BUTA HURUF

Lebih dari 5,3 juta perempuan Indonesia tak bisa membaca. Perlu pendekatan dan metode pengajaran yang diterima masyarakat.

VHRmedia, Jakarta –
Budaya patriarki  berkontribusi besar terhadap tingginya angka buta
huruf pada perempuan. Kondisi ini diperparah sikap pemerintah yang tutup
mata atas tingginya komersialisasi pendidikan.

Indonesia merupakan salah satu dari tujuh negara dengan angka buta
aksara tertinggi di dunia. "Angka buta aksara perempuan masih tinggi.
Ini soal patriarki. Ketika perempuan selalu dibebankan untuk mengurusi
orang lain, inilah yang terjadi," kata Winoto, pengamat pendidikan dari
Institute for Education Rerform (IER) Universitas Paramadina Jakarta,
Minggu (24/4).

Menurut Winoto, banyak dorongan dan pembenaran agar perempuan tidak
melanjutkan sekolah. Mulai alasan mencari kerja hingga urusan menikah.
"Budaya patriarki semakin besar. Makanya partisipasi perempuan masih
rendah. Dampaknya banyak sekali. Pemerintah jangan menutup angka buta
huruf di Indonesia."


Kondisi ini diperparah tingginya komersialisasi pendidikan. Adanya
pendidikan bertaraf internasional, secara tidak langsung diartikan
pendidikan mahal. Bahkan, siswa di satu sekolah bisa mendapatkan
fasilitas berbeda karena faktor biaya. "Tidak bisa dikotak-kotakkan
begitu. Pendidikan itu kewajiban negara," kata Winoto.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, pada tahun 2009 terdapat 8,3
juta penduduk buta aksara dan 5,3 juta di antaranya perempuan. "Sekarang
angkanya mungkin jauh lebih besar," kata Sri Indiyastutik, Wakil
Direktur Yayasan Penguatan Partisipasi Inisiatif dan Kemitraan
(Yappika).

Menurut Sri, banyak perempuan tidak mengakui tak bisa membaca. Ada juga
kecenderungan pejabat menutupi angka buta aksara. "Angka buta aksara
tinggi, akan mempengaruhi citra pejabat lokal. Ini tidak bisa
dimungkiri."

Pemerintah sudah meluncurkan program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
namun pada prakteknya minim pengawasan. Perlu terus memperbaiki metode
pendekatan pengajaran ke masyarakat agar mudah diterima. "Banyak ibu
mengedepankan kerja daripada belajar membaca. Itu manusiawi. Makanya
butuh pola pendekatan yang lebih mudah diterima," kata Sri Indiyastutik.
(E4)

Kurniawan Tri
/ Arwani

24 April 2011 – 16:18 WIB

Foto: wartajatim.blogspot.com