EnglishIndonesia

Berita Terkini

28
Jul

Bapak Dahrun Yang Sempat Tidak Menerima Bantuan Berhari-Hari

Bapak Dahrun adalah salah satu warga Desa Rano yang juga menerima bantuan rumah tumbuh. Rumah Bapak Dahrun tadinya berada di pinggir danau. Namun sekarang sudah rata dengan tanah, akibat gempa yang terjadi pada September 2018 lalu. Beruntung ia dan keluarganya selamat dari gempa saat itu. Kemudian mereka menuju ke lapangan bola untuk mengungsi bersama warga lain.

Story 5

Saat mengungsi, tidak ada bantuan yang diterima hingga berhari-hari. Kabar yang ia dengar, akses jalan di Walandano terputus, sehingga menyulitkan masuknya bantuan ke daerah mereka. Sekitar dua minggu kemudian, helikopter baru datang menurunkan bantuan yang jumlahnya juga tidak banyak. Sampai sebelum bantuan tiba, ia beserta warga lain hanya bertahan hidup dengan memakan hasil pertanian dan perkebunan warga desa, dan tidur di tenda darurat yang dibuat bersama-sama dengan warga. Belum ada yang berani kembali ke rumah saat itu.

Seperti warga lain, ia sangat bersyukur saat WALHI datang ke Desa Rano menawarkan bantuan rumah tumbuh. Ia juga merasakan betul proses demi proses pembangunan rumah tumbuh. Dimulai pertemuan warga untuk membicarakan standar rumah tumbuh yang dibutuhkan warga, hingga ke proses pembangunannya yang melibatkan Bapak Dahrun juga.

Story 5 2

Ia juga bekerja sebagai pengumpul sekaligus penyedia jasa angkut kopra ke Palu, bahkan sejak sebelum gempa. Ia menggunakan mobil truk sewaan untuk menjalankan usaha ini. Menjadi penyedia jasa angkut kopra dari Desa Rano ke daerah lain terutama Palu merupakan tantangan tersendiri baginya. Ia harus menghadapi akses jalan yang rusak setiap hari, yang mana jika terjadi longsor, maka ia tidak bisa mengantarkan kopra ke Palu atau daerah lain. Terkadang ia juga harus memutar mencari akses jalan lain yang juga tidak kalah rusaknya. Untuk itu ia berharap jika pemerintah dapat memperbaiki akses jalan dari dan menuju Desa Rano.