EnglishIndonesia

Berita Terkini

20
Mar

Inklusi Itu Indah

Sebuah kisah seorang guru yang berasal dari Desa Rajaka. Pak Yohanis begitulah beliau di sapa sehari-hari oleh rekan guru maupun murid-murid SDN Rajaka. Pak Yohanis merupakan guru wali kelas 3. Sama seperti guru-guru lain pada umumnya, Pak Yohanis memiliki pengetahuan yang minim mengenai anak berkebutuhan khusus. Tidak pernah beliau bayangkan seperti apa pola pengajaran dan bimbingan yang harus diberikan pada anak berkebutuhan khusus. Sampai pada akhirnya Pak Yohanis benar-benar berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus. Seorang murid bernama Stevani Ngura merupakan anak berkebutuhan khusus yang menjadi salah satu murid kelas 3 SDN Rajaka. Stevani mengalami lumpuh layu sejak kecil sehingga sulit untuk berjalan seperti anak normal lainnya. Stevani selalu diganggu oleh teman-temannya karena kondisinya tersebut.  Keadaan inilah yang membuat Stevani semakin terpuruk karena tidak ada perhatian khusus dari guru-guru SDN Rajaka terutama oleh wali kelasnya yang biasa berinteraksi setiap hari dengan dirinya.

proinqlued 2 (2)

Keadaan demikian sedikit demi sedikit mulai berubah sejak Pak Yohanis diajak menjadi salah satu peserta pertemuan komunitas tentang pendidikan inklusif di SDN Rajaka. Pak Yohanis terpilih menjadi sekretaris komunitas dan aktif mengikuti setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Yayasan Bahtera. Setelah beberapa kali mengikuti kegiatan pertemuan komunitas mengenai pendidikan Inklusif, Pak Yohanis merasa sangat beruntung karena informasi yang diperoleh sangat bermanfaat baginya ketika menghadapi anak murid yang berkebutuhan khusus. Informasi yang diberikan dalam pertemuan tersebut secara spesifik menjelaskan mengenai perhatian dan perlakuan pada anak-anak kebutuhan khusus sangatlah berbeda dengan anak normal lainnya.

 

Tidak hanya untuk Pak Yohanis yang berprofesi sebagai pengajar, tetapi informasi penting yang disampaikan pada saat pertemuan komunitas juga sangat penting dan berarti bagi para orang tua. Selama ini orang tua dan masyarakat pada umumnya tidak menyadari bahwa kehadiran anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk diperlakukan seperti anak-anak normal lainnya. Selama ini orang tua dan masyarakat beranggapan bahwa anak kebutuhan khusus tidak bisa bersekolah disekolah regular. Setelah mendapat pencerahan melalui kegiatan pertemuan komunitas dari Yayasan Bahtera, Pak Yohanis dan juga anggota komunitas lainnya mulai menyadari bahwa perlakuan mereka selama ini keliru.

 

Langkah pertama yang dilakukan oleh anggota komunitas adalah membagikan informasi yang diperoleh mengenai pendidikan inklusi pada masyarakat dan orang tua terlebih yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Sehingga sampai saat ini orang tua dan masyarakat mulai sadar dan secara perlahan-lahan mulai merubah perlakuan mereka terhadap anak berkebutuhan khusus.

 

Sejak saat itu, Pak Yohanis memberi perhatian khusus pada Stevani Ngura dan berbeda dengan anak normal lainnya. Jumlah siswa di kelas 3 ada 44 orang sehingga Pak Yohanis perlu waktu dan pikiran serta tenaga sehingga seluruh muridnya mendapat perhatian yang sama tanpa terkecuali. Jika Pak Yohanis harus bertugas diluar sekolah (misalnya kekantor Dinas Pendidikan, kuliah dan rapat guru) maka Stevani dititipkan pada kedua temannya yaitu Fifani dan Corlina sehingga tidak merasa kuatir jika harus meninggalkan murid-muridnya.

 

Dengan akhir kata anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam menerima pendidikan yang lebih baik.