EnglishIndonesia

Berita Terkini

24
Jul

Kisah Pua, Si Tetua Desa Rano Yang Bertahan Hidup Di Rumah Tumbuh

“Gempa pertama itu tahun 1968. Gempa kedua itu September 2018 kemarin yang sampai menghancurkan banyak rumah. Bahkan sampai memutus jalan menuju Rano.”

Samsu Kantor Abas, atau biasa dipanggil Pua, adalah tetua adat di Desa Rano. Semua penduduk desa sudah tahu bahwa ia termasuk keluarga kerajaan yang tersisa, keturunan dari Raja Balaesang. Ia sempat menjadi kepala desa dan tetap dianggap sebagai orang yang dituakan. Apa yang ia katakan, semua orang akan mendengarnya.

Story 1

Umur Pua sudah 65 tahun, namun tampak masih segar dalam beraktifitas di antara kehidupannya yang sederhana. Malam itu, sehabis makan malam di rumahnya, Pua bercerita banyak tentang Desa Rano. Baik sejarahnya, kondisi sebelum gempa, dan kondisi pasca gempa. Pua memang suka sekali bercerita.

“Sebenarnya ada dua akses menuju Rano. Yang umum itu melalui Walandano dan Malei, lalu jalur yang ke dua bisa melalui Pomolulu dan Awisang. Tapi sama saja, aksesnya sama-sama sulit. Apalagi saat gempa. Banyak longsor yang menutup akses ke Rano.” kata Pua.

Saat gempa terjadi, ia sedang berada di rumah bersama istrinya. Namun tiba-tiba saja gempa. Ia dan istrinya segera keluar rumah menyelamatkan diri. Rumahnya rusak. Ia juga melihat warga panik dan berhamburan sebelum akhirnya mengungsi di lapangan bola Desa Rano.

Berhari-hari mereka tidak mendapatkan bantuan, sampai-sampai mereka hanya mengandalkan hasil bumi Desa Rano yaitu buah-buahan dan umbi-umbian. Bantuan pertama datang menggunakan helikopter, namun tidak dapat memenuhi kebutuhan para pengungsi di Desa Rano.

Saat ditanya mengenai rumah tumbuh yang dibangun WALHI untuk warga terdampak di Desa Rano, Ia sebagai tetua adat sangat senang dan menghargai upaya WALHI dalam memenuhi kebutuhan penyintas gempa Desa Rano. Dari mulai mengajak warga desa bermusyawarah dalam menentukan siapa saja yang berhak mendapatkan bantuan rumah, hingga dalam menentukan standar pembuatan rumah. Sehingga rumah-rumah yang akan dibangun mengikuti apa yang menjadi keinginan warga Desa Rano. Standar yang dibicarakan bersama warga ini pun yang kemudian menjadi alasan pertimbangan warga ketika ada lembaga lain yang ingin memberikan bantuan rumah juga. Mereka harus mengikuti standar yang sudah disepakati warga bersama WALHI Sulawesi Tengah, melibatkan warga dan berkoordinasi dengan WALHI Sulawesi Tengah.

“Kami sempat menolak salah satu lembaga untuk membuatkan kami rumah di sini. Karena tidak sesuai dengan standar yang kemarin kami sepakati bersama WALHI.” kata Pua.

Menurutnya, kebutuhan akan rumah menjadi kebutuhan utama warga Desa Rano paska gempa. Tapi menurutnya juga, masalah utama dari sebelum hingga setelah gempa meluluhlantakkan Desa Rano adalah akses yang terbatas. Akibatnya, perekonomian warga di Desa Rano tidak maju. “Akses jalan ke Desa Rano sedari dulu sudah cukup sulit. Ditambah lagi sekarang semakin sulit karena banyak jalan tertutup longsor. Listrik juga tidak ada. Memang, dulu pernah ada listrik. Tapi kapasitas pembangkit listriknya tidak cukup besar untuk warga Desa Rano, sehingga mesinnya rusak.”

Menurutnya, potensi perekonomian Rano sebenarnya cukup bagus. Hanya saja aksesnya sulit. Banyak pohon buah tumbuh di sini. Potensi pariwisata juga ada karena keindahan bentang alam Danau Rano. Ia berharap pemerintah mau lebih memperhatikan kondisi masyarakat Desa Rano.

“Ibaratnya, kami punya mata tolong dikasih melihat, kami punya kaki tolong dikasih berjalan, dan kami punya kuping tolong dikasih mendengar.” katanya. Jika diartikan, ia sangat berharap pemerintah mempermudah akses listrik, jalan, dan informasi.