Laily: Mendobrak Mitos dan Rasa Takut

Diterbitkan pada | Senin, 28 Agustus 2023

Laily tinggal di Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember bersama suaminya, Hasan, dan Dita, anak perempuan mereka. Laily sehari-hari mengurus rumah dan anaknya yang masih berusia 3 tahun. Sang suami biasanya ngarit, mengurus ternak milik orang lain, menjadi kuli, dan mengerjakan apa pun untuk menghidupi keluarganya.

Di pertengahan 2022, Laily mengetahui bahwa ia sedang mengandung anak kedua. Rasa bersyukur dan bahagia menyelimuti keluarganya. Namun, di sisi lain kekhawatiran pun menghantui dirinya. Ia teringat saat melahirkan Dita di bidan, keluarganya harus mengeluarkan biaya persalinan yang cukup besar. Jika harus mempersiapkan kembali untuk anak keduanya, ia khawatir tidak sanggup memenuhinya melihat dari pendapatan suaminya yang tak menentu.

Tak hanya itu, ia membatasi makanan yang ia konsumsi dan tidak melakukan hal-hal tertentu yang dipercaya oleh masyarakat sekitar agar sang jabang bayi tetap sehat. "Hamil pertama kan nggak tau. Jangan makan udang, nanti bayinya kenapa gitu. Saya nggak makan waktu yang ini, saya takut," kata Bu Laily sambil menunjuk Dita, anak pertamanya.

Di tengah kegundahan ini, Bu Laily bertemu dengan kader Posyandu dan mitra lokal program MUTIARA. Ia menjadi salah satu penerima manfaat yang mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pendampingan kesehatan. Sejak usia kehamilan 5 bulan, kader Posyandu setiap pagi mengantarkan makanan selama 3 bulan. Kunjungan rutin ini menjadi kesempatan bagi Laily untuk bertanya-tanya seputar kehamilannya. Banyak hal yang akhirnya terjawab dan kepercayaannya akan mitos pun perlahan berubah. “Katanya jangan makan (ikan) tongkol, nanti anaknya lahirnya susah. Saya tanya ke kader Posyandu emang benar? Ternyata memperlancar ASI,” ujar Laily.

Hari yang dinantikan pun tiba. Diboncengi oleh Hasan, Laily berangkat ke Puskesmas Silo untuk melahirkan anak keduanya. Tak banyak hal yang harus ia persiapkan menjelang kelahiran sang anak. “Semuanya itu dibantu, saya cuma tinggal berangkat. Mau buat surat ini itu, dibantu langsung,” ujar Laily ketika bercerita tentang peran kader Posyandu. Pendampingan dari kader Posyandu membuatnya mengerti proses melahirkan di Puskesmas gratis sehingga ia dan sang suami tidak lagi khawatir akan biaya persalinan.

Kini anaknya pun sudah lahir dengan sehat dan mendapatkan imunisasi. “Kalo Dita itu kan serba takut. Kalo Dita belum selapan mau ke Posyandu, nggak boleh gitu. Jadi diam aja, nggak ke Posyandu. Kalo ini (Faiz), meskipun belum selapan berangkat saya,” ujar Laily yang menggendong Faiz, anak keduanya. Melihat banyak perubahan dari proses kehamilan pertama dan kedua, ia pun bertanya mengapa programnya baru ada sekarang. Ia hanya bisa berharap kedua anaknya tetap tumbuh sehat meskipun ada perbedaan di awal pertumbuhan mereka.


Tag :