EnglishIndonesia

Berita Terkini

29
Aug

Pelokalan (Lokalisasi) Bantuan Internasional untuk Kemanusiaan Tanpa Aktor Lokal

YDH02918

(Image: https://media.ifrc.org/grand_bargain_localisation/grand-bargain-localisation-workstream/asia-pacific-conference/ )

Tidak ada pelibatan organisasi dan aktor lokal dalam Konferensi Regional Asia-Pasifik tentang Pelokalan (Lokalisasi) Bantuan Internasional untuk Kemanusiaan yang berlangsung pada tanggal 27-28 Agustus 2019 di Jakarta. Padahal organisasi lokal merupakan pihak yang pertama memberikan respons saat krisis kemanusiaan terjadi; mereka paling rentan menjadi korban dalam situasi krisis kemanusiaan; mereka paling memahami situasi, politik, dan budaya lokal, karena berada dan bekerja sebelum, selama, dan setelah krisis kemanusiaan terjadi; dan akan tetap bekerja untuk pemulihan dampak krisis jauh setelah semua aktor kemanusiaan internasional pergi. Namun kehadiran serta peran penting mereka sering luput dalam perbincangan mengenai mekanisme respons kemanusiaan.

e0321d7b-f91f-45c7-8f31-ca4a911216f1

Pada tanggal 27-28 Agustus 2019 di Graha BNPB Jakarta, berlangsung Konferensi Regional Asia-Pasifik tentang Pelokalan Bantuan dengan tujuan untuk memfasilitasi diskusi antara para pihak tentang peluang dan tantangan dalam pelokalan, berbagi pengetahuan dan pembelajaran dalam pendekatan pelokalan. Pelokalan (lokalisasi) bantuan adalah tentang peran signifikan organisasi lokal sebagai pelaku respons pertama krisis kemanusiaan dan memberi dukungan agar peran mereka berkembang dan menguat, termasuk pelibatan lebih besar dalam forum berbagi pengetahuan dan mekanisme koordinasi global-regional-nasional.

Konferensi ini diselenggarakan oleh IFRC (Federasi Internasional Palang Merah dan Sabit Merah) dan Pemerintah Swiss, sebagai Co-coverens Workstream/Alur Kerja Pelokalan dalam Grand Bargain. Konferensi ini merupakan rangkaian konferensi regional yang telah digelar sebelumnya di Afrika (Addis Ababa) dan Timur Tengah (Amman).

Pada kenyataannya, organisasi lokal masih mengalami hambatan untuk berpartisipasi dalam konferensi ini. Sejumlah organisasi lokal mendapat penolakan dari penyelenggara dengan alasan sudah melebihi kapasitas jumlah peserta. Dalam daftar peserta yang dirilis panitia, memperlihatkan dominasi aktor-aktor internasional, minim pelibatan organisasi lokal Indonesia.

Pada hari pertama konferensi ini, diketahui bahwa hanya ada satu organisasi lokal (Sulawesi Tengah) yang berhasil memperoleh akses sebagai peserta melalui pemberitahuan yang mendadak dari panitia. Padahal setidaknya ada empat organisasi lokal yang merupakan aktor penting dalam respons bencana di Sulawesi Tengah yang sudah berada di Jakarta, salah satunya WALHI Sulawesi Tengah. Mereka berupaya datang ke Jakarta dan terlibat dalam konferensi untuk memastikan bahwa sudut pandang organisasi lokal Indonesia menjadi referensi penting perbincangan mengenai pelokalan di konteks Asia Pasifik.

c282d4fd-03a7-43b7-b9a8-0865c6de4680

Padahal dalam sesi khusus mengenai Pembelajaran tentang Pelokalan dalam Respons Sulawesi Tengah pada hari kedua merupakan kesempatan untuk pelibatan organisasi lokal secara lebih substantif dalam ruang politis ini. Namun upaya lobi ke Panitia, UN agency, organisasi internasional, serta ajakan pada peserta dari negara lain untuk mendukung upaya pelibatan organisasi lokal Indonesia pun tidak mendapatkan respons yang signifikan.

Jakarta, 28 Agustus 2019

Contact Persons:

  1. Indira Hapsari (YAPPIKA) : 081326251401
  2. Abdul Haris (WALHI Sulteng) : 082191952025
  3. Nur Hidayati (Eknas WALHI): 081316101154
  4. Adriansah (Sulteng Bergerak): 082291794751