EnglishIndonesia

Anak Sehat

Program Anak Sehat (#AnakSehat) – 2018 hingga saat ini.

Goal: Berkontribusi pada terselenggaranya pelayanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas, akuntabel, tanggap, dan menjamin akses bagi perempuan, anak, dan masyarakat miskin.
Hasil: Meningkatnya respons pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk perbaikan gizi dan pengurangan angka stunting.

Keluaran:

  1. Membaiknya regulasi (nasional, kabupaten, desa) yang mengatur mengenai tata kelola serta anggaran percepatan perbaikan gizi dan pengurangan angka stunting.
  2. Adanya forum multipihak di tingkat desa untuk isu KIA.
  3. Tersedianya sistem informasi mengenai layanan KIA dan mekanisme respons cepat di 4 desa di Kabupaten Jember.
  4. Meningkatnya kemampuan warga dalam menyediakan sumber pangan bergizi untuk keluarga.

Lokasi: Kabupaten Jember.

Kelompok Sasaran:

  • Kabupaten: kader posyandu, bidan, komunitas-komunitas di desa, kepala dan perangkat desa, pemerintah kabupaten (bupati, Dinas Kesehatan, Bappeda), DPRD, akademisi, media lokal.
  • Nasional: Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa, BAPPENAS, DPR, OMS yang bekerja dalam isu kesehatan ibu/anak.

Penerima manfaat: perempuan/ibu, ibu hamil, balita.

Sumber dana: donasi publik, CSR/corporate partnership.

Pelaksanaan: Program ini dijalankan bekerja sama dengan PRAKARSA Jatim. Berikut penjelasan detil terkait dengan beberapa strategi yang akan dilaksanakan dalam program.

a) Pusat Informasi KIA, Gizi dan Stunting
Pusat Informasi KIA, Gizi dan Stunting merupakan aktivitas berbasis komunitas warga di tingkat desa. Program akan membentuk komunitas baru atau memperkuat komunitas yang ada seperti Posyandu, Karang Taruna dan lainnya. Komunitas ini akan diposisikan sebagai pusat dari kerja pemberdayaan program. Pemberdayaan dilakukan untuk memperkuat kapasitas komunitas sehingga mampu menjalankan fungsi utama:

  • Menyebarluaskan informasi tentang KIA, Gizi, dan Stunting. Informasi yang disebarluaskan dapat berasal dari pemerintah daerah (Dinas Kesehatan) atau dapat diproduksi sendiri oleh komunitas.
  • Melakukan pendidikan kepada warga yang lain (khususnya perempuan dan remaja perempuan) seputar isu-isu KIA, Gizi dan Stunting.
  • Melakukan pemantauan dan pemutakhiran data kondisi KIA, isi dan stunting.
  • Melakukan pendampingan tindakan dan psikis-konseling terhadap warga yang teridentifikasi rawan mengalami persoalan KIA, Gizi dan Stunting. Termasuk memastikan bekerjanya sistem rujukan untuk kasus darurat yang
    harus segera mendapatkan tindakan dari fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
  • Terlibat dalam advokasi kebijakan di tingkat desa dan daerah, khususnya yang terkait dengan upaya peningkatan pelayanan KIA, Gizi dan stunting.
  • Kegiatan pertemuan rutin komunitas menjadi sumbu utama dalam kerja-kerja pemberdayaan (peningkatan kapasitas) warga. Untuk menunjang terpenuhinya kapasitas yang diharapkan, fasilitator (CO) juga akan bekerja sama dengan narasumber dan stakeholder strategis.

b) Sistem Deteksi Dini dan Mekanisme Rujukan
Sistem deteksi dini dan mekanisme rujukan merupakan prosedur pencegahan, penanganan dan pendampingan kasus KIA, Gizi dan Stunting yang dibangun secara partisipatif bersama warga dan pemerintah desa. Prosedur ini meliputi proses pendataan kondisi KIA, Gizi dan Stunting secara berjenjang dari KK (kepala keluarga) hingga Desa.

Data kondisi KIA, Gizi dan Stunting akan diperbarui secara berkala oleh relawan data (komunitas warga) melalui kegiatan Posyandu atau kunjungan ke rumah- rumah warga. Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara berkala untuk mendeteksi kasus dan potensi kasus yang akan terjadi dan pendekatan penanganannya. Data  agregasi dari keluarga hingga desa ini menjadi data desa yang akan disampaikan ke tingkat lebih tinggi yaitu Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Harapannya model ini dapat berkontribusi pada peningkatan akurasi
data kesehatan kabupaten dan dapat menjadi model dalam melakukan pengelolaan data untuk program-program pemerintah lainnya seperti penyaluran bantuan sosial, KIP, KIS, dan lainnya.

Secara teknologi, beragam pendekatan dapat dilakukan, baik dari cara manual maupun menggunakan teknologi informasi seperti sms, website dan lainnya. Hal ini akan sangat tergantung dari sumber daya yang dimiliki oleh program. Akan tetapi perlu diperhatikan, pendekatan teknologi informasi bukanlah inti dari pengembangan sistem deteksi dini, akan tetapi hanyalah saran pendukung saja. Inti dari sistem deteksi dini ini adalah proses pengelolaan data lapangan yang dilakukan secara partisipatif, akurat dan terintegrasi dari keluarga hingga desa.

Sementara itu yang dimaksudkan dengan mekanisme rujukan adalah mekanisme di tingkat desa yang dibangun secara partisipatif meliputi aspek menemukan, menangani dan mendampingi. Menemukan adalah proses untuk mengidentifikasi (menerima aduan) warga yang mengalami problem KIA, Gizi dan Stunting. Menangani adalah melakukan tindakan respons cepat dengan memberikan penanganan sesuai dengan lingkup kapasitas yang diperlukan dan diperbolehkan untuk menghindari memburuknya kondisi. Mendampingi adalah memberikan
bantuan secara berkelanjutan kepada warga (korban) untuk mendapatkan layanan di tingkat fasilitas kesehatan yang lebih tinggi seperti Puskesmas, RSUD dan lainnya. Pendampingan juga akan diberikan paska mendapatkan tindakan darurat.

Kerja sama dengan perguruan tinggi akan dikembangkan dalam strategi ini.

c) Forum Multipihak di Desa
Program akan memfasilitasi dan mendorong adanya forum multipihak di tingkat desa untuk mendiskusikan kondisi KIA, Gizi dan Stunting. Forum ini melibatkan unsur pemerintah desa, anggota komunitas warga, organisasi perempuan, organisasi kepemudaan, RT, RW dan Puskesmas. Pertemuan ini akan dilaksanakan secara berkala setiap tiga bulan (minimal) untuk mengevaluasi kondisi dan program-program pemerintah desa yang sudah dilakukan. Rekomendasi dari forum ini diharapkan akan dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah desa dalam bentuk
kebijakan dan program konkret. Secara lebih luas, forum ini ditempatkan sebagai upaya untuk memperluas perhatian aktor-aktor di luar komunitas warga dampingan terkait dengan isu KIA, Gizi dan Stunting.

d) Kebun Gizi
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada warga dalam memanfaatkan ruang kosong pekarangan rumah atau tanah desa untuk membangun kebun yang ditanami dengan aneka ragam sayuran, buah atau tanaman lain yang dapat menjadi sumber gizi keluarga. Selain itu, program juga akan memberikan kapasitas kepada warga tentang bagaimana mengolah sumber- sumber pangan lokal menjadi makanan bergizi dan mempunyai nilai ekonomi yang baik. Program juga akan memfasilitasi pemerintah desa dalam mengembangkan
“dapur gizi” yaitu usaha desa yang dikelola oleh warga untuk memenuhi kebutuhan makanan sehat bagi warganya khususnya bagi anak-anak dan ibu hamil untuk mencegah masuknya makanan pabrikan yang berisiko bagi kesehatan. Secara jangka panjang, “dapur gizi” ini dapat dikembangkan menjadi BUMDes karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan sekaligus memastikan adanya pemenuhan gizi yang berkualitas bagi warga.

Kerja sama dengan perguruan tinggi atau praktisi gizi/kuliner akan dikembangkan dalam strategi ini.

e) Kampanye Edukasi
Kampanye edukasi ini untuk membangun pemahaman warga secara luas tentang KIA, Gizi dan Stunting. Sasaran kampanye ini adalah publik luas dengan segmen utama remaja, ibu hamil, ibu dengan balita dan laki-laki di desa dan pesantren. Pelibatan pesantren dalam kampanye ini memiliki nilai strategis khusus untuk lokasi program di Kabupaten Jember.

Kampanye edukasi akan dilakukan di antaranya melalui talkshow/iklan radio, pengajian, kerja sama dengan media lokal, dan media sosial.