EnglishIndonesia

Berita Terkini

27
Jul

Sou Pontuho Mpogosahaka Mombine: Semangat Perempuan Tangguh di Tengah Pandemi COVID-19

Di tengah situasi pandemi ini ada kabar baik dari Desa Rogo, Kabupaten Sigi yang baru saja menyelesaikan pembangunan rumah ramah perempuan. Capaian ini menjadi sangat berarti bagi komunitas dampingan WALHI Sulawesi Tengah, salah satu mitra implementator YAPPIKA Action-Aid, mengingat proses pembangunannya dilakukan dengan tidak mudah di tengah kondisi pemulihan paska gempa yang belum selesai, ditambah dengan situasi pandemi dalam tiga bulan terakhir. Proses pembangunan dilakukan oleh tukang bangunan, sedangkan para anggota kelompok perempuan damping turut mengambil andil dalam memastikan desain rumah terbagi ke dalam beberapa ruangan yang mendukung kegiatan perempuan. Antara lain, ruang bermain anak. Ruang ini penting supaya para ibu tidak perlu khawatir untuk meninggalkan atau menitipkan anaknya pada orang lain jika ada kegiatan di rumah ramah perempuan. Lalu ada ruang diskusi yang akan digunakan untuk kelas belajar atau berbagai cerita. Kemudian ada ruang baca supaya kehadiran anggota kelompok perempuan tidak hanya terbatas jika ada kegiatan kelas belajar atau diskusi. Pemasangan toilet di dalam rumah ramah perempuan tersebut juga sangatlah penting. Paska bencana, Desa Rogo krisis air bersih. Hal ini menyebabkan para perempuan kesulitan mengakses toilet dan air bersih. Pembagunan toilet yang menyatu dengan rumah ramah perempuan akan memudahkan akses sekaligus juga memastikan keamanan perempuan dari pengintipan ketika mereka menggunakan toilet.
Rogo 4
Rumah ramah perempuan ini diberi nama oleh para perempuan Desa Rogo sebagai Sou Pontuho Mpogosahaka Mombine (artinya: rumah tempat istirahat perempuan). Kelompok perempuan yang menjadi dampingan WALHI Sulawesi Tengah (mitra implementator YAA memilih nama tersebut karena pekerjaan mereka sebagai petani angin (penangkap kelapa yang jatuh dari pohon karena tiupan angin) cukup melelahkan. Mereka perlu berjalan kaki puluhan kilometer sambil menenteng belasan buah kelapa untuk dijual lagi atau digunakan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keberadaan rumah ramah perempuan tersebut tentunya bukan hanya sekedar tempat bersinggah untuk istirahat saat para perempuan di tengah memanen kelapa, tetapi di tengah beristirahat tersebut perempuan ini secara berkelompok menggelar pertemuan untuk peningkatan kapasitas, saling bercerita untuk menguatkan satu sama lain, dan masih banyak lagi.
Rogo 2
Awalnya, sebelum rumah ramah perempuan ini berdiri, kelompok perempuan Desa Rogo berkumpul secara reguler di rumah Ibu Anizar. Salah seorang putri Ibu Anizar, yaitu Endang, kemudian dipilih kelompok untuk menjadi koordinator Sou Pontuho Mpongosahaka Mombine. “Saya merasa senang karena terbangunnya rumah ramah perempuan itu. Kami semua nantinya bisa mendapatkan lebih banyak lagi pengetahuan, bisa berkumpul dengan ibu-ibu dan berbicara lebih serius lagi,” papar Endang. Terkadang pertemuan anggota kelompok perempuan di rumah orangtua Endang membuat pemudi berusia 21 tahun ini kurang fokus untuk mendengarkan materi karena harus turut membantu merapikan rumah. “Dengan adanya Sou Pontuho Mpogosahaka Mombine ini, seluruh ibu-ibu dapat saling membantu untuk menyiapkan ruangan,” kata Endang. Proses pembangunan rumah ramah perempuan ini sempat terkendala karena tukang bangunan yang ada di Desa Rogo sedang fokus untuk pembangunan hunian tetap. Setelah semua kendala teratasi, akhirnya sekarang Endang dan para perempuan Desa Rogo dapat menyaksikan berdirinya rumah ramah perempuan. “Mungkin di rumah itu akan lebih banyak lagi pengetahuan yang akan saya dapatkan. Hal-hal baru yang akan membuat kami semakin percaya diri bahwa kami juga berhak dihargai walaupun kami hanya orang biasa”, ujar Endang ketika ditanya mengenai harapannya setelah rumah ramah perempuan berdiri.

Kelompok perempuan sering dikategorikan sebagai kelompok rentan pada situasi normal. Pada situasi kebencanaan tingkat kerentanan kelompok perempuan semakin meningkat karena seringkali mereka tidak hanya terbebani pekerjaan rumah tangga tetapi juga perlu membantu pemulihan ekonomi keluarga. Akan tetapi, perempuan memiliki potensi yang besar. Mereka menjadi garda depan untuk melindungi keluarga ketika bencana terjadi karena mereka yang memastikan kondisi tempat tinggal baik itu ketika di tenda pengungsian atau di huntara, mempersiapkan makanan, dan masih banyak lagi. Hal ini yang membuat YAPPIKA-ActionAid, melalui program Emergency Response and Resilience, memastikan adanya ruang bagi para perempuan untuk saling berbagi dan meningkatkan kapasitas diri. Ruang tersebut diistilahkan rumah ramah perempuan, mengingat rendahnya akses perempuan terhadap ruang untuk berekspresi dan berpendapat sehingga keberadaan rumah ini diharapkan bisa menjadi sarana yang ramah untuk memfasilitasi keseganan para perempuan dalam menampilkan dirinya

Rencananya Sou Pontuho Mpogosahaka Mombine akan ditanam bunga dan sayur-sayuran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para perempuan. Kelompok perempuan Desa Rogo semakin bersemangat untuk menggelar kegiatan dan memperkuat struktur kelompok sejak selesainya proses pembangunan. Ini menjadi semangat bagi mereka di tengah kegelisahan untuk menunggu penyelesaian pembangunan hunian tetap yang lokasinya masih di sekitar Desa Rogo.

Semoga Sou Pontuho Mpogosahaka Mombine menghasilkan semakin banyak perempuan tangguh di Desa Rogo!

Notes: Sampai saat tulisan ini ditulis belum ada kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi di Desa Rogo, tetapi terdapat tindakan pencegahan dari pemerintah setempat untuk melakukan pembatasan terhadap warga yang masuk ke Desa Rogo.