Updates

11
Aug

Stunting, refleksi kondisi gizi ibu dan anak di Indonesia

Sejak pelaksanaan MDG’s dan berlanjut ke SDG’s, berbagai pengetahuan, praktik, serta sumber daya dikerahkan untuk mengkoreksi situasi serius gizi anak Indonesia. Namun situasi ini seolah hanya berjalan di tempat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rinkesdas) 2013 mencatat prevalensi stunting mencapai 37,2% atau satu dari tiga anak di Indonesia menderita stunting. Angka ini menunjukkan peningkatan dari hasil Rinkesdas 2010 (35,6%) dan Rinkesdas 2007 (36,8%). Apabila situasi gizi buruk pada anak seperti obesitas, kurus maupun wasting, relatif bisa dikoreksi dalam jangka pendek. Kondisi stunting sangat sulit untuk dikoreksi terutama pada usia di atas 2 tahun. Stunting atau tubuh pendek, pada dasarnya mencerminkan sebuah proses gagal tumbuh secara linier, sebagai akibat dari kurang gizi kronis yang dialami seorang anak dalam waktu cukup lama. Itulah sebabnya kasus stunting digunakan untuk merefleksikan kondisi gizi suatu wilayah.

Dilatari oleh mendesaknya persoalan anak stunting di Indonesia, maka YAPPIKA mengadakan diskusi dengan para pegiat F2H (Frontier For Health) Bandung serta Departemen Gizi Universitas Padjajaran. Diskusi yang berlangsung di kantor F2H pada 2 Agustus 2016 yang lalu, merupakan ruang bersama untuk lebih mempertajam pemahaman mengenai pelayanan publik, khususnya sektor kesehatan, sekaligus memperkuat jaringan advokasi untuk isu pelayanan publik.

04

Situasi kekurangan gizi pada periode sejak perempuan hamil hingga bayi berusia 2 tahun atau 1000 hari pertama, mempunyai dampak negatif yang signifikan terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak, terutama struktur dan fungsi otak. Probabilita anak tersebut untuk menderita stunting semakin besar ketika mereka mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan lahir dari ibu yang menderita stunting. Pembuat kebijakan dan masyarakat masih belum menilai stunting sebagai masalah kesehatan yang serius karena dampaknya tidak langsung terlihat, seperti hambatan pertumbuhan, gangguan kemampuan belajar, serta produktivitas kerja yang rendah di kemudian hari, lebih beresiko menderita penyakit-penyakit regeneratif seperti jantung, diabetes, dan stroke.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Gizi Unpad, ditemukan bahwa sebagian besar kasus stunting disebabkan karena anak kurang menerima makanan yang bergizi sejak usia mulai makan (di atas 6 bulan). Itulah sebabnya angka stunting terus naik mulai usia 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan dengan persentase yang signifikan. Temuan banyaknya praktik orang tua yang memberikan makanan berupa camilan gurih atau cepat saji, merefleksikan minimnya pemahaman tentang makanan yang bergizi, variasi yang memadai serta kecukupan untuk tumbuh kembang anak.

Dari sisi kebijakan, menurut hasil rencana strategis Kementerian Kesehatan RI (2015: 25), meskipun terjadi kenaikan di sisi anggaran Kementerian Kesehatan dari tahun 2008-2014, namun proporsi anggarannya relatif tidak berubah. Alokasi untuk upaya kesehatan pada tahun 2014 bahkan menurun. “Alokasi untuk tindakan kuratif dan rehabilitatif jauh lebih tinggi dibanding alokasi untuk upaya preventif dan promotif. Tenaga medis disibukkan dengan aspek kuratif dan tidak punya waktu lagi untuk turun ke lapangan melakukan tindakan preventif serta promotif,” ungkap Lies Zakaria, Direktur Operasional F2H Bandung, dalam diskusi.

Dari diskusi tersebut, muncul beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan stunting, yaitu: 1) Mengukur status kesehatan remaja perempuan untuk mencegah anak dengan berat bayi lahir rendah BBLR, sebagai upaya preventif. Pola makan dan asupan gizi pada remaja perempuan akan sangat menentukan kesehatan anaknya nanti, baik saat hamil, melahirkan, atau menyusui. 2) Memberikan ASI Eksklusif, dan tidak menggantikannya dengan susu formula. 3) Melakukan pengukuran panjang badan secara rutin, untuk mendeteksi secara dini dan memberikan perawatan yang tepat 4) Memberdayakan kader Posyandu untuk membuat makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang. 5) Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga (ayah, ibu dan anak) sebagai sebuah entitas yang utuh, bukan tanggung jawab ibu semata.