A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mysqli::real_connect(): Headers and client library minor version mismatch. Headers:100337 Library:30120

Filename: mysqli/mysqli_driver.php

Line Number: 203

Backtrace:

File: /home/yappikaa/public_html/application/core/MY_Controller.php
Line: 20
Function: __construct

File: /home/yappikaa/public_html/application/controllers/Router.php
Line: 17
Function: __construct

File: /home/yappikaa/public_html/index.php
Line: 322
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mysqli::real_connect(): Headers and client library minor version mismatch. Headers:100337 Library:30120

Filename: mysqli/mysqli_driver.php

Line Number: 203

Backtrace:

File: /home/yappikaa/public_html/application/third_party/ion_auth/models/Ion_auth_model.php
Line: 186
Function: database

File: /home/yappikaa/public_html/application/third_party/ion_auth/libraries/Ion_auth.php
Line: 71
Function: model

File: /home/yappikaa/public_html/application/core/MY_Controller.php
Line: 24
Function: library

File: /home/yappikaa/public_html/application/controllers/Router.php
Line: 17
Function: __construct

File: /home/yappikaa/public_html/index.php
Line: 322
Function: require_once

Yappika Actionaid

Cerita Penyintas Gempa Cianjur: Wulan dan Harapannya

Diterbitkan pada | Senin, 02 Januari 2023



Tim YAPPIKA-ActionAid merespon gempa di Cianjur, Jawa Barat. Kami  tiba di Kecamatan Warungkondang, Cianjur, pada 28 November 2022, sehari setelah gempa terjadi. Ribuan bangunan, termasuk rumah, sekolah, masjid, dan rumah sakit rusak bahkan hancur. Banyak orang kehilangan rumah, lingkungan, dan orang yang mereka cintai. Duka mendalam dan kehancuran ditinggalkan oleh gempa berkekuatan 5,6 SR ini. Awal Desember 2022, YAPPIKA-ActionAid mewawancarai Wulan (55 tahun) asal Cugenang, Cianjur, Jawa Barat. Gempa melenyapkan harta benda yang dikumpulkan Wulan dengan jerih payahnya selama puluhan tahun menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Si bungsu, Dewi belum genap setahun waktu Wulan memutuskan berangkat ke Arab Saudi menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Sebuah keputusan berat yang harus diambilnya. Perempuan asal Cianjur ini tak mampu membiayai 5 anaknya yang masih kecil seorang diri hanya lewat hasil buruh tandur padi. Maka ketika temannya mengajak mencari peruntungan di Saudi, keputusannya bulat, ia berangkat. Wulan mau anak-anaknya sejahtera dan punya rumah yang layak.

"Saya mencuci baju, menyapu rumah di Arab Saudi, Irak, Dubai. Terus saya bikinin rumah buat anak-anak, daripada ngontrak sana-sini. Jadi saya ikhlas jadi TKW yang penting halal gitu," kenang Wulan.

Ibu lima anak ini sudah lama bercerai dari suaminya, “digoda perempuan lain,” katanya sambil berbisik. Wulan menikah di usia seharusnya seorang anak masih belajar di sekolah. Seingat dia suaminya berumur 22 tahun, sedangkan Wulan baru 13 tahun. Wulan belum lama lulus Sekolah Dasar sewaktu ia menikah. Keluarganya tak punya biaya buat melanjutkan sekolah. Wulan perempuan penurut dan tidak pernah bertingkah. Dia juga mengaku sang suami yang sehari-hari bekerja di peternakan bebek itu tak pernah main tangan atau membentak. “Malah saya yang banyak ngomel, kalau sudah begitu dia (suami) pergi keluar,” katanya.

Sambil membetulkan letak jilbabnya Wulan berkisah, dia ditinggal sang suami ketika anak mereka yang paling bungsu baru menginjak 10 bulan. Sejak itu tak ada berita dari si mantan suami, dia hanya mendengar kabar burung bahwa suaminya menikah lagi dengan perempuan kampung sebelah.

“Sampai sekarang belum hilang sakit hatinya. Yaudah, tidak apa-apa ikhlas. Cuma saya sakitnya bukan soal perceraian, tapi lupa sama anaknya. Cerai itu tidak apa-apa, mungkin sudah takdir. Kecewa saya karena ini darah daging dia, dia tidak pernah memberi biaya makan.” Katanya.

Selama kurang lebih 30 tahun Wulan bolak-balik menjadi TKW, lewat jalur legal maupun ilegal. Uang penghasilannya dia kirim kepada keluarga. Sebagian untuk jajan anak, sebagian lagi untuk beli semen, atap, dan pintu. Dari hasil menjadi Asisten Rumah Tangga (ART), rumah anak-anaknya pelan-pelan direnovasi. Saat dia bekerja di Irak, Wulan diminta pulang oleh anaknya, renovasi selesai, rumah mereka sudah bagus. Selain itu, mereka juga rindu dengan sosok ibu mereka. Maka, kembalilah Wulan ke Indonesia dan pulang ke kampungnya di Cugenang, Cianjur, Jawa Barat. Baru seminggu sampai, gempa bumi melanda bumi Cianjur. Rumah yang sudah dibangun Wulan dari hasil keringatnya rata dengan tanah.



Dia ingat, selepas Sholat Dzuhur, Wulan berniat lanjut membaca Al-Quran. Tiba-tiba suara ledakan terdengar. Tanah terhempas, begitu juga lemari pendingin di ruang tamu ikut terlempar menimpa Wulan. Dia hanya bisa berteriak lirih minta tolong. Dewi anaknya yang paling bungsu membongkar puing dan menarik Ibunya keluar. Mereka berdua selamat meski harus menderita luka di sekujur badan.

Keduanya lalu lari ke lokasi kuburan orang tua Wulan. Semua anak dan cucunya selamat, meski harus kehilangan seorang menantu. Melihat kondisi mereka, serta melihat bangunan rumah, jerih payahnya selama ini rata dihantam  gempa magnitudo 5,6. Wulan terisak, di atas kuburan orang tuanya, dia menangis sejadinya.

Usai berobat, Wulan dibawa ke Cipanas. Di sana dia tak betah, jalan antar rumah yang sempit, serta minim ruang terbuka membuat traumanya kambuh, belum lagi gempa susulan yang masih terjadi. Di Cipanas dia pindah dua kali, sebelum akhirnya memutuskan mengungsi ke rumah mantunya di Sukaluyu, Cianjur. Di sini, lebih banyak ruang terbuka. Meski begitu, trauma masih menghantui, beberapa kali nenek dari 13 orang cucu ini berlari keluar saat subuh, entah karena gempa atau sekadar mendengar bunyi-bunyi keras.

“Kapan saya mau punya rumah lagi? Masa saya kembali lagi jadi TKW? Sudah tua, lah enggak bakal diterima dari PT (perusahaan) juga,” katanya sambil menggosok matanya yang sembab.

Dia berharap anak-anaknya tak ada yang mengikuti jejaknya jadi TKW. Pengalaman di Saudi membuatnya melarang anak-anaknya mengikuti jejak ibunya. Jam kerja yang tak manusiawi buat Wulan kapok. Di Saudi, dia seperti diperbudak. Tak ada rekreasi, tak ada jam istirahat, hanya kerja. “Kalau bisa anak-anak buka warung atau jualan makanan, jangan jadi TKW lagi…,” katanya sambil terisak.

Melihat gempa yang meratakan rumahnya buat hatinya masygul. Pengorbanannya selama 30 tahun habis begitu saja. Wulan dan anak-anaknya harus mulai dari nol. Cita-citanya keluar dari kemiskinan harus menunggu. Namun, dari semua kekacauan ini, dia tampak masih menyimpan harap, meski kecil.

“Kalo udah punya duit lagi, saya mau jual karedok, gado-gado gitu,” katanya sambil tersenyum kecil.