Diterbitkan pada Jumat, 05 Juni 2026

Ada jalan sunyi bagi perempuan dalam menjaga lingkungan. Di tengah tekanan ekspansi industri ekstraktif, ekonomi dan perubahan iklim, para perempuan tampil sebagai garda depan untuk mempertahankan sumber daya hidup dan kearifan lokal. Mereka menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan.
Padahal seringkali suara mereka tak pernah didengar dan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, khususnya terkait ruang hidupnya. Padahal, mereka menjadi kelompok yang paling terdampak atas krisis lingkungan.
Dalam Indonesian Journal of Conservation, Marhaeni (2012), menjelaskan corak perjuangan perempuan Indonesia sangat beragam. Tak hanya melakukan protes atas ketetapan pembangunan yang merugikan, perempuan Indonesia juga menyuarakan pengalaman dan kritik mendalam tentang kondisi masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah pada manusia dan perempuan.
Dari Sumatera hingga Papua, perempuan Indonesia menunjukkan perjuangan dan perlawanannya untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Mulai dari menjaga hutan, melestarikan pangan lokal, berdaulat pangan hingga belajar permakultur untuk mencegah stunting. Mari menelusuri kisah perjuangan mereka:
Bagi masyarakat Suku Batin Sembilan, hutan telah menjadi apotek hidup yang diwariskan secara turun temurun. Menyadari pentingnya menjaga warisan ini, para perempuan Suku Batin Sembilan melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo, mereka mengelola 399 hektare hutan secara komunal.
Ini menjadi upaya agar pengetahuan tentang hutan bagi generasi muda terus lestari di tengah ancaman perubahan pola hidup dan menyempitnya ruang hutan. Sehingga jika ancaman datang, hutan tak lantas dirampas oleh para pendatang.

Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA) hadir di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi para anak perempuan di Papua Selatan. Komunitas ini muncul untuk memberdayakan perempuan dan anak perempuan di pedesaan melalui pendidikan energi terbarukan dan kewirausahaan.
Mereka belajar memanfaatkan energi bersih seperti energi matahari dan biomassa untuk meningkatan pendapatan. Tak hanya itu, mereka juga membangun proyek rumah sagu melalui teknologi mesin bersumber energi terbarukan.
Harapannya, inisiatif ini dapat mengembalikan anak perempuan ke sekolah setelah mendapat ketimpangan kesempatan dalam mengakses pendidikan.

Inovasi datang dari para perempuan Desa Bontomanai, Sulawesi Selatan. Ada 18 perempuan yang ikut dalam Sekolah Lapang Permakultur. Sekolah ini menjadi bagian upaya warga pesisir menghadapi krisis iklim dan ketergantungan pangan dari luar desa.
Mereka memanfaatkan pekarangan rumah untuk melakukan permakultur dengan membangun relasi antar unsur kehidupan. Mereka menanam sayur, lalu pupuk berasal dari kotoran ternak sekitar. Kini, manfaat dari hasil kebun permakultur sudah mereka rasakan dan kini pengetahuannya akan terus dilestarikan.

Kelompok Perempuan Tani (KPT) Desa Sananrejo, Kabupaten Malang, menjawab persoalan tengkes atau stunting lewat kebun gizi. Mereka menanam sayuran dan beternak secara organik dan berkelanjutan.
Mereka berkebun di atas lahan seluas 2.000 meter persegi untuk demplot dan pembibitan. KPT ini juga menyediakan pangan sehat, bahkan bagi ibu hamil dan balita untuk mencegah tengkes. Ibu hamil dan balita akan diberikan paket sayuran gratis. Dari kemandirian ini, angka anak penderita tengkes menurun. Lima tahun lalu, 120 dari 600 anak menderita tengkes namun, pada November 2025 hanya 60-an dari 425 balita saja.

Para perempuan Maba Sangaji terus berdaya saat para suami mereka ditangkap karena menolak tambang nikel PT Position di Halmahera Timur. Pasalnya, tambang nikel membuat sungai mereka tercemar dan sumber perekonomian mereka menurun.
Kelompok Perjuangan Perempuan Maba menjadi simbol perlawanan dari dapur. Kini mereka tak henti mengolah sagu yang menjadi pangan lokal setempat. Mereka tak gentar untuk terus berkolaborasi dan belajar teknik produksi dan pemasaran untuk menopang ekonomi keluarga.
Perjuangan ini jadi tanda untuk menolak patuh pada pihak yang merusak budaya dan kehidupan mereka. Bagi mereka, keberanian adalah modal utama dan mereka akan terus bekerja, hidup, dan bersuara. Mereka pun menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menjaga kedaulatan pangan dan tanah adat yang terus terancam oleh kerusakan lingkungan.
