RRI - Desa Sehat Turen Susun Perkades Kesehatan Ibu Hamil

Diterbitkan pada Jumat, 05 Juni 2026



KBRN, Malang : Program Desa Sehat yang dijalankan Pattiro Malang memasuki tahap penting di dua desa dampingan, Sananrejo dan Gedok Wetan, Kecamatan Turen. Setahun terakhir, pendampingan difokuskan pada upaya memformalkan praktik pengawasan ibu hamil yang sebelumnya berjalan atas inisiatif pemerintah desa, bidan desa dan kader kesehatan.

 

Project Manager Desa Sehat Pattiro Malang, Adi Khisbul Wathon, menjelaskan bahwa proses pendampingan dilakukan dengan memotret kondisi kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh, termasuk bagaimana desa menjamin keberlangsungan kehamilan.

 

"Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keberadaan ibu hamil berisiko tinggi dari keluarga miskin yang belum memiliki jaminan kesehatan apa pun. Praktik pendampingan yang selama ini dilakukan kemudian dirumuskan ulang agar dapat menjadi kebijakan desa yang lebih jelas dan berkelanjutan," ujarnya di Balai Desa Sananrejo, Rabu (26/11/2025).

 

Melalui proses tersebut, desa didorong aktif menggerakkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tenaga kesehatan, kader, hingga tokoh masyarakat, untuk memastikan kebutuhan kehamilan warga terpantau. Dukungan pembiayaan bagi keluarga miskin juga menjadi salah satu fokus, baik melalui anggaran desa maupun kontribusi sukarela masyarakat.

 

Sananrejo dan Gedok Wetan telah menyusun draf Peraturan Kepala Desa (Perkades) sejak Februari, yang memuat mekanisme penanganan kehamilan berisiko dan skema pembiayaan persalinan bagi kelompok rentan. Regulasi ini ditargetkan menjadi payung pelaksanaan program di kedua desa.

 

Upaya tersebut diperkuat dengan penyusunan SOP rujukan ibu hamil, yang disosialisasikan kepada tokoh desa dan kader kesehatan.

 

Bidan Desa Sananrejo, Ulfa Annas, menjelaskan bahwa SOP tersebut dibangun sejak tahap identifikasi kasus hingga pemetaan alur rujukan yang akhirnya disepakati untuk dilekatkan dalam Perkades. "Seluruh ibu hamil yang datang ke fasilitas desa kini diklasifikasikan dengan sistem skoring risiko, rendah, tinggi, hingga sangat tinggi, dan setiap kategori memiliki tindak lanjut tersendiri," ujarnya.

 

Ulfa menambahkan bahwa melalui sistem ini, ibu hamil diharapkan memperoleh pendampingan berlapis dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa sehingga kondisi kehamilan dapat terpantau hingga proses persalinan berlangsung aman, baik untuk ibu maupun bayi.


Artikel yang ditulis oleh William Nathan ini telah tayang di RRI.co.id pada 26 November 2025 dengan judul serupa