RRI - Tekan Stunting dan Pernikahan Dini Perlu Kolaborasi

Diterbitkan pada Jumat, 05 Juni 2026



KBRN, Malang : Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Malang mendorong kolaborasi lintas sektor dalam upaya menekan angka stunting dan pernikahan anak di Kabupaten Malang. Melalui program "Desa Sehat" , Pattiro menggandeng berbagai pihak untuk melakukan aksi bersama demi kampanye isu kesehatan ibu dan anak.

 

Adi Khizbul Wathon, Program Manager Pattiro Malang mengungkapkan, permasalahan stunting dan pernikahan anak di Kabupaten Malang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Sepanjang 2024, tercatat lebih dari seribu kasus dispensasi pernikahan anak, sementara prevalensi stunting mencapai angka 6,24 persen per Februari 2025.

 

"Fenomena ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah kabupaten. Diperlukan peran serta dari banyak pihak, termasuk media, masyarakat desa, hingga kader kesehatan dan remaja,” kata Adi di sela Focus Group Discussion mengenai penanganan stunting dan pernikahan dini dengan lintas sektor pada Selasa (5/8/2025)..

 

Saat ini, program Desa Sehat Pattiro menjangkau empat desa prioritas, yakni Desa Gedog Wetan dan Sananrejo di Kecamatan Turen, serta Desa Sukolilo dan Kidangbang di Kecamatan Wajak.

 

"Keempat desa tersebut dipilih karena tingginya angka stunting dan potensi terjadinya pernikahan anak," ujarnya.

 

Untuk itu, upaya yang dilakukan Pattiro diantaranya adalah peningkatan kapasitas kader kesehatan sebagai ujung tombak penanganan stunting di desa. Selain itu, revitalisasi kelompok remaja atau genre juga menjadi strategi penting.

 

“Kami ingin remaja desa kembali aktif dan produktif, agar tidak terjebak dalam tekanan untuk menikah dini. Aktivitas positif yang melibatkan mereka menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah pernikahan anak,” ujar Adi.

 

Selain pendekatan sosial, Pattiro juga memperkenalkan inovasi Kebun Gizi sebagai solusi pencegahan stunting berbasis keluarga. Dalam program ini, keluarga dengan anak atau ibu yang berisiko stunting didorong untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah melalui kegiatan berkebun, beternak, atau budidaya ikan.

 

“Pendekatan ini tidak hanya memberi tambahan asupan gizi, tapi juga mengajarkan kemandirian dan keberlanjutan. Kita ingin menciptakan model yang bisa direplikasi di desa-desa lain,” tambahnya.

 

Adi menegaskan bahwa dengan pendekatan kolaboratif, berbasis komunitas, dan inovatif, Pattiro berharap program Desa Sehat dapat menjadi contoh baik dalam upaya menurunkan angka stunting dan pernikahan anak di tingkat desa, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan lokal.

 

Artikel yang ditulis Hanum Oktavia ini telah tayang di RRI.co.id pada 5 Agustus 2025