Diterbitkan pada | Selasa, 04 Agustus 2020
“Saya mah terima kasih
sekali kalau ada yang masih mau ngajarin kami yang gak sekolah. Apalagi pak
guru dan bu gurunya juga enak cara ngajarnya. Saya jadi semakin semangat
belajar biar pinter dan mengetahui apa yang belum saya ketahui”. Hasanah,
42 tahun
Program keaksaraan fungsional untuk
ibu-ibu buta aksara, yang didukung oleh donasi publik, sudah menapaki bulan
ketiga di kelurahan Marunda, tepatnya di RW 02, Jakarta Utara. Pembelajaran
yang dilakukan setiap Sabtu dan Minggu ini ternyata menjadi rutinitas yang
ditunggu-tunggu oleh warga belajar karena keinginan secepatnya dapat membaca
dan menulis. Tidak ada halangan bagi mereka untuk mengikuti pembelajaraan
meskipun fungsi penglihatannya sudah agak rabun.
Proses belajar yang santai,
kadang diselingi canda dan tawa oleh para relawan YAPPIKA yang bertugas menjadi
tutor membuat suasana belajar nyaman di tengah panasnya udara Jakarta Utara
yang menyengat. Membuat para ibu
tersebut mengerti, paham dan dapat membaca membuat para relawan puas, bukan
hanya sekedar tujuan program berjalan, namun lebih dalam yaitu sebuah
pembebasan karena kesadaran akan haknya. Seperti disampaikan oleh Paulo Freire
bahwa “Pendidikan termasuk kegiatan pemberantasan buta huruf haruslah
menjadikan pembebasan manusia sebagai tujuan dan penyadaran sebagai inti
proses, tidak untuk menciptakan dominasi dan ketergantungan”, menjadi bahan renungan
para relawan. Semoga keaksaraan fungsional merupakan sebuah titik
awal yang harus benar-benar fungsional, yang menjadi pondasi awal untuk
mengajak masyarakat menganalisa secara sadar kondisi sosial yang berlangsung
dilingkungannya, dalam hal ini tentang hak memperoleh pelayanan publik. (eta)