Ketakutan Betty Tambunan Berlipat Ganda Setelah Rumah Hilang Ditelan Longsor

Diterbitkan pada | Senin, 05 Januari 2026

Betty Tambunan, salah satu warga yang sangat terdampak dari banjir dan longsor yang melanda Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara pada Selasa (25/11/2025) lalu. Betty terlihat sangat tegar mendatangi tim Yappika - Bitra Indonesia ketika memarkirkan kendaraan di depan rumah tempat mereka mengungsi.


Kedatangan tim membawa bantuan disambut baik oleh puluhan warga yang mengungsi di rumah tersebut. Korban banjir dan longsor yang berada di sana berterima kasih karena masih mengingat mereka dan bermurah hati membantu.

Sembari menyalurkan bingkisan, beberapa warga menceritakan langsung mengenai kondisi yang mereka alami saat musibah itu melanda perkampungan. Salah satu diantaranya Betty Tambunan, yang spontan menyebut bahwa rumahnya sudah hilang, rata dengan tanah karena longsor.

Seusai menerima bingkisan berupa makanan dan obat-obatan, perempuan berusia 46 tahun itu mengajak tim Yappika - Bitra Indonesia untuk menyaksikan langsung keadaan rumahnya, yang tidak jauh dari pengungsian. Dia berboncengan dengan suaminya, Harapan Situmorang, naik sepeda motor, lalu tim mengikuti dari belakang.


“Ini rumah kami yang terkena longsor. Saya tahu rumah kami hancur dua hari setelah kejadian. Itu pun setelah kami melewati hutan, karena di depan rumah sudah penuh lumpur, kayu dan batu. Tidak bisa dilalui,” kata Betty, sembari menunjuk puing-puing rumah yang tersisa dan tertutup tanah kuning pada Senin (22/12/2025).


Betty kemudian menceritakan secara detail awal rumahnya mereka ditelan longsor hingga dia bersama suaminya bisa selamat dari musibah tersebut. Jadi, sebelum tanah, batu dan kayu mendorong rumah, paginya mereka telah mengungsi ke tempat mertua. Sebelum pergi, Betty dan suaminya mengaku sudah melihat tanda-tanda bakal terjadi longsor.


Menurut dia, sudah ada pergeseran tanah dari atas. Tidak ingin berlama-lama, ia memutuskan pergi begitu saja dan tak membawa apapun selain pakaian yang melekat di badan. Mereka meninggalkan rumah sekitar pukul 14.00 WIB. Setiba di rumah orangtua suaminya, Betty melihat di sana ternyata sudah ada sembilan orang yang mengungsi.

Berharap di tempat itu aman, ternyata longsor dan muntahan air datang menerjang rumah mertuanya. Perpindahan lokasi pengungsian terus berlanjut. Mereka kemudian berlari menuju rumah warga lain yaitu Madarisma. Namun keadaan di rumah itu pun belum nyaman karena air bercampur lumpur memasuki rumah.


“Saya tidak tahu kapan rumah kami hancur, dan tidak tahu kondisinya, suami saya yang bercerita. Rumah sudah hancur. Saat itu, saya sudah tidak berani melihat, saya trauma. Kami baru bisa keluar dua hari kemudian,” tutur Betty, yang masih mencoba untuk tidak menangis saat mengisahkan peristiwa mereka pindah-pindah pengungsian.


Peristiwa banjir dan longsor ini memang tidak hanya melulu lantakkan rumah-rumah warga di Desa Mardame, tapi hampir seluruh Kecamatan di Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga, tempat ketiga anak Betty bersekolah. Di bawah terik matahari, Betty menjelaskan, bahwa tiga anaknya sekolah di SMP Negeri 3 Sibolga, sudah tidak bisa komunikasi lebih dari lima hari dan listrik di seluruh kampung juga padam. Pasangan suami istri ini pun khawatir. Mereka sama sekali tidak tahu seperti apa kabar anak-anaknya di kota tersebut.


Memastikan kondisi anaknya, Harapan Situmorang lalu pergi menjemput. Upanya penuh tantangan karena pasca kejadian, banyak titik di Jalan Sisingamangaraja atau lintas Tarutung - Sibolga itu amblas dan tertutup material tanah, kayu dan bebatuan. Namun dia tetap bertekad untuk pergi. Bapak tiga anak itu tidak peduli meski pergi berjalan kaki melewati hutan belantara dan naik turun perbukitan.


“Kami tidak tahu kabar mereka. Setelah 5 hari, pergi lah ayahnya menjemput dengan berjalan kaki sepanjang 22 kilometer. Puji Tuhan, anak kami selamat dan langsung dibawa ke sini. Kejadian hari Selasa dan Sabtu dijemput. Dari sini jam 10 pagi, sampai di Sibolga pukul 7 malam. Dari sana berangkat jam 9 pagi sampai di Desa Mardame pukul 6 sore, melalui hutan,” kenang Betty, yang ditemani Harapan Situmorang.


Jika menggunakan sepeda motor atau mobil, jarak tempuh dari Desa Mardame ke Sibolga biasanya hanya satu sampai dua jam saja.


Hampir satu bulan pasca banjir dan longsor, Betty dan Harapan sama sekali belum tahu harus berbuat apa. Mereka tidak mempunyai rumah, hanya masih tinggal di rumah rekan sekampung, dan nyaris belum bisa bekerja seperti sedia kala. Melihat kondisi tersebut, perhatian pemerintah untuk menyelesaikan persoalan memang harus segera terwujud.


“Kami tidak tahu mau ke mana. Semoga ada perhatian pemerintah. Sekarang hancur lah hati kami. Kesulitan kami yang lain yaitu akses ke kebun Karet pun terputus, terbelah dua. Entah bagaimana lah kehidupan kami. Sejak kejadian belum pernah ke bekerja,” ucap Betty, terbata-bata.


Dia juga merasa bahwa tinggal di pengungsian tidak nyaman. Menurut Betty, seburuk apapun rumah sendiri tetap lebih nyaman tinggal di rumah pribadi. Ketakutannya pun bertambah, selain belum mempunyai rumah dan pemenuhan kebutuhan pokok, Betty dan Harapan, takut, khawatir masa depan anak-anak, termasuk pendidikan.


“Ketakutan kami ya bagaimana masa depan anak-anak, karena kami juga tidak bisa ngapa-ngapain. Suami saya yang biasa naik kereta ke kebun, sekarang tidak bisa, akses terputus. Sudah rusak parah. Harapan saya sebagai ibu rumah tangga, kepada pemerintah tolong lah diperhatikan supaya masa depan anak-anak kami tidak terputus. Begitu juga dengan rumah kami. Bapak Presiden Prabowo,Pak Bupati Masinton, juga pejabat-pejabat lain, tolong, pak. Harapan kami sangat besar kepada Pemerintah. Inilah rumah kami, anak-anak kami juga butuh masa depan. Tiga anak harus kami perjuangkan. Bantu kami, tolong perhatikan kami rakyat kecil ini pak, ya,” ucap Betty, menangis, tidak bisa lagi menahan air matanya.


Pada saat ini, tapi tidak tahu kedepan, makanan atau kebutuhan pangan memang masih terpenuhi setelah banyak mendapat bantuan dari Pemerintah dan berbagai lapisan masyarakat. Betty beserta keluarganya hingga kini masih tinggal di rumah-rumah warga.

Tag :