Diterbitkan pada | Selasa, 06 Januari 2026
Pada Selasa (22/12/2025) pukul 12.00 WIB, tim YAPPIKA-ActionAid dan BITRA Indonesia tiba di Dusun III Parsikkaman, Desa Pagaran Lumbung I, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, untuk menyalurkan bantuan kepada korban longsor dan banjir di daerah tersebut. Saat itu, kami dibantu salah seorang warga untuk mengumpulkan para korban yang mengungsi di rumah keluarga mereka.
Tidak menunggu lama, warga yang memang sangat memerlukan bantuan langsung berkumpul di rumah Koko Hutagalung. Salah satu dari puluhan warga itu hadir seorang ibu bernama Magdalena.
Tim melakukan wawancara kepada wanita berusia 49 tahun itu sesuai penyerahan bantuan berupa obat-obatan dan kebutuhan perempuan lainnya. Magdalena menceritakan bagaimana dia bisa selamat dari banjir dan longsor yang tidak hanya menghilangkan rumahnya, tapi juga merenggut nyawa warga sekampungnya.
Dia mengatakan musibah itu terjadi mulai Selasa (25/11/2025) pagi. Sebelumnya, peristiwa itu, hujan melanda daerah itu sepekan non stop. Saat itu, rumahnya memang sudah kena longsor, tapi hanya bagian depan saja. Namun begitu, Magdalena tidak mau ambil risiko dan memutuskan pergi ke rumah tetangga yang diperkirakannya aman di dekat jalan.
“Sorenya saya masih bisa pulang untuk memberi ternak makan. Setelah itu balik lagi ke rumah tetangga. Kami di situ karena nyaman, jauh dari bukit-bukit. Tapi tiba-tiba pukul 2 malam longsor terjadi,” kata Magdalena, sembari memangku bingkisan.
Dia mengingat tiga kali terjadi longsor saat mengungsi di rumah tetangganya bermarga Sihombing. Pertama yang longsor pohon-pohon, kedua tanah air, dan ketiga kali air bercampur tanah. Air dan tanah mendorong beberapa kendaraan roda empat hingga truk ke arah rumah Sihombing.
Truk tersebut didorong tanah sejauh 8 meter hingga merusak rumah dan membuat Sihombing terjepit. Magdalena berusaha untuk keluar lewat depan, karena di belakang tidak ada. Beruntung saja, ketika itu ada beberapa supir di dalam rumah mendobrak dinding.
“Kami pun akhirnya bisa keluar. Kami melihat pak Sihombing terjepit dan minta tolong. Datang lah para supir, membantu semampunya. Masih dua papan yang terbuka, tapi tanah langsung turun lagi, mobil didorong pun lagi. Jadi bapak itu sudah langsung tidak ada (meninggal dunia),” kenang Magdalena, yang melihat kejadian itu.
Di tengah malam itu, Magdalena bersama warga lainnya terus berjuang untuk menyelamatkan diri. Selanjutnya mereka mengungsi ke rumah warga. Namun situasi belum berpihak padanya, karena tidak lama kemudian tempat itu dihantam air bercampur lumpur, seperti banjir bandang. Kata dia, mobil yang didorong air bertumpuk seperti gunung. Mereka segera keluar meninggalkan rumah itu.
“Kayaknya cuma kami yang belakangan keluar dari situ, karena sudah jam 2 malam. Kami keluar dari situ, semua sudah pada di posko,” ujar Magdalena, yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit.
Setelah sampai di posko, Magdalena tidak mengetahui kondisi rumahnya. Beberapa hari kemudian ia baru bisa melihat rumahnya sudah rusak parah, karena ditimpa mobil. Semua peralatan rumah rusak bahkan banyak yang terbawa air, terutama mesin jahit. Alat itu merupakan usaha atau mata pencaharian Magdalena.
Saat kejadian, Magdalena seorang diri tinggal di rumahnya. Suaminya sudah tidak ada, dan empat anaknya berada di perantauan. Ada yang sudah bekerja di Medan dan ada yang masih menempuh pendidikan di Riau dan Bandar Lampung.
“Kalau saya memang sudah tidak ada pekerjaan. Saya cuma tukang jahit di rumah. Jahitan semua sudah hanyut, mesin juga nggak kelihatan. Jadi ya nggak tahu lagi harus gimana. Keinginan saya, ya setidaknya mesin jahit ada untuk menyambung hidup. Pekerjaan saya hanya menjahit, sudah tidak punya suami,” tutur wanita yang sempat merantau ke Jawa Barat itu.
Pekerjaan ini tidak hanya sekedar ada bagi wanita kelahiran 1976 itu. Ini sangat penting, mengingat usaha itu penentu keberlanjutan pendidikan anak-anaknya. Sehingga ia merasa khawatir apabila tidak memiliki pekerjaan beberapa bulan kedepan. Magdalena sangat tidak ingin dua anaknya pulang karena tidak ada biaya.
“Kebetulan anak saya dua kuliah. Jadi saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Dari mana mata pencaharian saya nanti untuk menutupi biaya anak saya yang dua ini,” ujar Magdalena.
Sekarang, dua putrinya kuliah semester tiga. Satu di Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri Riau (UNRI) Pekanbaru dan satu lagi kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Sipil di Institute Teknologi Sumatera (Itera) Bandar Lampung. Memang anak yang di Lampung mendapat Kartu Indonesia Pintar (KIP), tapi biaya makan ditanggung sendiri. Anak di Pekanbaru juga dibantu KIP, hanya saja tidak sepenuhnya. Magdalena harus bayar biaya kost dan makan.
Setiap bulan, karena keterbatasan ekonomi, ia hanya bisa mengirim uang Rp 800 ribu per orang untuk makan, dan kontrakan Rp 600 ribu. Putrinya yang kuliah di UNRI tidak dapat beasiswa penuh. Putrinya yang di Bandarlampung satu semester menerima Rp 4,2 juta, dan sebagian dari itu digunakan untuk biaya kontrakan. Sudah satu bulan, Magdalena tinggal di rumah saudara. Kondisi itu tentu tidak mudah dilaluinya di tengah keterbatasan, meskipun bantuan logistik masih terus berdatangan dari Pemerintah maupun masyarakat.
Magdalena juga menyebut bahwa Pemerintah berjanji akan menyediakan rumah hunian sementara. Warga yang kehilangan rumah atau rusak parah sudah menandatangani surat bakal memiliki rumah. Tinggal atau menumpang di rumah warga sebenarnya kurang nyaman bagi Magdalena, karena akan terbatas dalam beraktivitas dan tidak semaksimal di rumah sendiri.
“Seandainya mesin jahit ada, bagaimana lah saya menjahit di rumah orang, kita harus bikin pola, suara mesin ribut, kita kan takut juga pada yang punya rumah,” kata Magdalena, yang datang tanpa alas kaki.
Dia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah, orang-orang, masyarakat luas yang telah memberikan perhatian dengan memberi bantuan logistik pangan hingga obat-obatan. Selain berharap pada negara mengenai kepastian hidup, ia juga meminta kepada para ahli agar meningkatkan kesadaran warga di desanya mengenai kewaspadaan terhadap bencana.