NENEK-NENEK MELAWAN BUTA AKSARA

Diterbitkan pada | Selasa, 04 Agustus 2020

KBR68H – Pada 2010 lalu ada lebih dari delapan juta orang dewasa di seluruh wilayah Indonesia tidak bisa membaca dan menulis. Sebagian besar adalah perempuan. Tidak usah jauh-jauh ke daerah terpencil untuk mencari dewasa buta aksara. Jakarta Utara, yang hanya berjarak 20 kilometer dari Istana Negara,  adalah daerah paling banyak buta aksara di Provinsi Jakarta. Reporter Agus Luqman mengintip ke kegiatan belajar para nenek melawan buta huruf, sembari belajar soal hak dasar mereka sebagai warga negara.

Nenek belajar membaca

Dengan perlahan, Bu Ina, Bu Maseni, Bu Juminah, dan sejumlah ibu berusia di atas 50 tahun menaiki tangga mushola yang curam, menuju lantai dua. Sayup-sayup terdengar suara pengumuman melalui pengeras suara. “Pada hari ini kita akan belajar bersama-sama seperti biasa, tempatnya di karang taruna dan di musholla…. “

Lalu Bu Ina dan kawan-kawan duduk di lantai mushola, melepas tas kain, dan mengeluarkan buku serta pensil. Beberapa saat kemudian, suara mereka lantang terdengar. “1,2,3… Bismillahirrohmanirrohim.. A, B, C …”

Didampingi dua orang mahasiswa, nenek-nenek itu mencoba mengasah otak mereka mengingat-ingat huruf.

Nenek-nenek itu tidak tinggal di pelosok pulau terpencil, atau di daerah perbatasan. Mereka berada di Sukapura, Jakarta Utara. Jaraknya hanya 20 kilometer dari Istana Negara. Toh urusan pemberantasan buta aksara orang dewasa di daerah ini, bukan pemerintah yang berbuat, melainkan masyarakat sendiri. “Ayo dibaca, dieja. Ibu kan sudah bisa baca… Buka halaman 64, coba lihat di bawahnya, ada angka 6 dan 4. Kelihatan nggak angkanya bu?”

Dika dan Eep adalah mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Selama enam bulan terakhir, mereka menjadi relawan pendamping kegiatan belajar pemberantasan buta aksara bagi para nenek-nenek di Sukapura, Jakarta Utara. Mereka ikut dalam program pemberantasan buta aksara yang digagas LSM Yappika di Jakarta.

Nurdiansyah, salah satu relawan LSM Yappika yang mengurusi program tersebut menjelaskan, kegiatan pemberantasan buta huruf itu mereka lakukan, karena tingginya angka buta huruf di Indonesia. “Program keaksaraan fungsional untuk ibu ini dengan nama Ayo Bantu 5,3 Juta Ibu Indonesia Belajar Membaca, itu untuk merespon fakta tingginya angka buta aksara di kalangan perempuan. Berdasar fakta Kemendiknas, saat ini, perkiraan pada 2010, ada sekitar 8,3 juta penduduk Indonesia yang buta aksara untuk usia 15 tahun ke atas. Dari angka itu, 60 persen adalah perempuan, yaitu 5,3 juta.”

Sejak tahun lalu LSM Yappika membentuk kelompok belajar ibu-ibu  di Kelurahan Marunda dan Kelurahan Sukapura, Jakarta Utara. Sebagian besar peserta berusia di atas separuh abad. Sampai kini sudah terbentuk 10 kelompok belajar, masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Wilayah Jakarta Utara dipilih karena memiliki angka buta aksara paling tinggi se-Jakarta. “Untuk saat ini kita hanya fokus pada perempuan dewasa, khususnya ibu. Ini menjadi prioritas, dan urgensi bagi Yappika. Karena kondisi perempuan buta aksara itu sangat riskan. Mereka rentan. Mereka sudah buta aksara, miskin, jadi tulang punggung ekonomi, dan di pelayanan publik mereka rentan ditipu karena tidak bisa mengisi formulir dan baca tulis.”

Program keaksaraan atau pemberantasan buta aksara yang dilakukan Yappika, tidak hanya mengajarkan baca tulis. Ibu-ibu dan nenek-nenek itu diajarkan hak-hak dasar kewarganegaraan serta informasi pelayanan publik.

“Jamkesmas singkatannya apa bu? Jam-nya singkatan apa bu? Kalau ibu sakit itu kan pakai Jamkesmas, singkatannya apa itu Bu? Di buku ada kok singkatannya, ayo dibaca aja,” kata relawan menyemangati salah satu nenek untuk terus membaca.

Selama dua hari dalam satu minggu, puluhan ibu dan nenek yang rata-rata dari keluarga miskin itu diajari membaca dan menulis, diajar menulis nama sendiri, membuat tanda tangan sendiri, maupun informasi hak-hak dasar pelayanan publik. “Hak dasar ibu, itu mendapatkan pendidikan. Selanjutnya meendapatkan kesehatan. Misalnya sakit, ditanggung pemerintah. Ada anggaran sendiri. Seperti Jamkesmas, SKTM, dan lain-lain, pemerintah itu sudah ada. Kalau ibu-ibu sakit, nanti ibu bisa mengajukan lewat Bu RT. Kemarin sudah diajarkan kan, apa saja yang musti dilampirkan.”

Informasi semacam ini yang membedakan program keaksaraan Yappika dengan program keaksaraan lain. Nurdiyansyah, aktivis Yappika yang mengurusi program ini menyebutkan, Kementerian Pendidikan Nasional pernah menawarkan dana untuk kegiatan pemberantasan buta aksara ini. Namun, tawaran itu ditolak. Salah satu alasannya, karena Kementerian memaksa menggunakan modul pemerintah yang tidak memuat  informasi hak-hak dasar warga negara.

“Kementerian Pendidikan Nasional menawarkan kerjasama dengan pengguliran dana sekitar 3,5 juta untuk satu kelompok belajar. Tapi Yappika menolak, karena dana itu tidak cukup untuk kegiatan satu kelompok belajar selama enam bulan. Kemudian, ada persyaratan khusus dari Kemendiknas, soal modul. Kami punya modul khusus, yaitu pengenalan calistung dan pengenalan hak dasar dan pelayanan publik. Sementara itu tidak ada di modul pemerintah. Jadi kami tidak menerima kerjasama itu.”

Apakah nenek-nenek itu akhirnya benar-benar bisa membaca?

Membaca dan paham hak warga negara

Ibu Ina beberapa kali berkerut kening ketika mengeja kata, sembari sesekali bercanda dengan temannya. Punggungnya melengkung di lantai, seperti mau memeluk buku di tangannya. Nenek berusia 60-an tahun itu tengah mengikuti kegiatan belajar membaca yang diselenggarakan Yayasan Yappika, di Kelurahan Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara.

Andika Nur Soutama, mahasiswa yang menjadi relawan itu, tak henti-hentinya mendampingi para nenek mengeja huruf demi huruf. “Jadi sudah ada yang tahu nggak Bu, fungsi KTP apa?” tanya Andika. “Se-ba-gai-i-den-ti-tas-war-ga-ne-ga-ra,” kata Ibu Ina perlahan.

Selama seminggu dua kali, Dika dan sejumlah temannya rutin mendatangi Cilincing, Jakarta Utara. Meski untuk itu ia seperti harus ‘membelah Jakarta’ karena kampusnya di timur Jakarta, sementara rumahnya di selatan Jakarta. Kuliahnya memang di jurusan Pendidikan Luar Sekolah. “Ya, karena kebutuhan juga sih. Di kampus itu kurang pengalaman luar. Kebetulan ada teman yang sudah masuk dulu jadi relawan di LSM Yappika. Dia melihat saya berminat, akhirnya merekrut saya masuk ke situ. Ketertarikan saya, kebetulan saya kuliah di Pendidikan Luar Sekolah. Jadi pas banget dengan apa yang saya jalani jadi relawan, yaitu mengajar keaksaraan fungsional.”

Mengajar baca nenek-nenek, yang umurnya bisa selisih sampai 30-an tahun, jelas tidak mudah bagi Andika. Maklum, para lansia itu biasanya sudah lemah daya ingatnya.  “Yang sulit, warga belajar itu jarang mengulang pelajaran di rumah. Dia hanya belajar di tempat belajar. Sudah begitu, di tempat belajar tidak konsentrasi. Jadi makin parah menangkap informasi yang kita berikan. Jadi, yang telat ya saya pisahkan. Di sana tadi ada dua relawan dari Yappika, dua relawan dari lokal. Jadi sebisa mungkin saya kasih supaya mengejar, tidak ketinggalan.”

Selain melibatkan relawan dari LSM Yappika, kegiatan pembelajaran aksara para ibu itu juga melibatkan tenaga relawan lokal. “Nama saya Sri Iswati, saya tutor lokal yang diminta Yappika untuk mengajar di wilayah RT 04, RW 03 Sukapura, Cilincing. Mengajarnya sudah berjalan enam bulan ini. Saya memang suka di bidang sosial. Kebetulan Bu RT 04, Bu Elly mengharap saya ikut sebagai tutor lokal. Saya senang sekali.”

Sri Iswati begitu menikmati kegiatannya menjadi relawan pengajar.  “Sudah terbiasa. Pernah ngajar di SMPN 77, mengajar komputer. Jadi sudah terbiasa. Cuma memang nggak lama, hanya tenaga honorer.”

Sehari-hari, Sri Iswati didampingi relawan lokal lainnya yaitu Elly Wigiarti. Menurut Elly, masih banyak warga di lingkungannya yang buta aksara. Bahkan tidak sedikit dari mereka masih berusia produktif sekitar 20-an tahun. Kegiatan keaksaraan yang dilakukan Yappika diharapkan mengurangi angka buta aksara di daerahnya. Kendala yang ada: kesehatan. “Yang penting ibu-ibu ini masih mau mengisi waktunya. Saya rasa ibu-ibu seperti ini yang akan meneruskan. Kalau tidak ada anak-anak relawan, ibu-ibu pernah saya tanya, mau tidak? Katanya mau, asal sehat,” kata Elly

Dibutuhkan dana total sekitar 75 juta rupiah untuk mengoperasikan 10 kelompok pemberantasan buta aksara, selama enam bulan. Dana itu antara lain untuk honor relawan, dan pengadaan peralatan belajar. Menurut Nurdiyansyah dari Yayasan Yappika, mereka musti menggalang dana dari masyarakat, karena tidak menggunakan dana pemerintah.

“Kenapa Yappika menggalang dana atau public fundrising, itu respon untuk melihat sejauh mana kepedulian masyarakat untuk membantu persoalan yang ada di masyarakat. Respon mereka bagus. Dengan program Ayo Bantu 5,3 Juta Ibu Indonesia Belajar Membaca, kami membuka rekening dan membuka donasi langsung, serta ada kita buat Celengan Untuk Ibu Buta Aksara, yang kami taruh di ruang-ruang publik. Jadi masyarakat bisa isi berapapun donasi yang mereka mau. Selain itu transfer rekening juga kami lakukan, kami juga jual produk donasi. Misalnya ada selendang sutera batik buatan perempuan lokal Cirebon yang hampir mati—karena banjir batik cetak dari Cina. Jadi kami beli itu untuk dijual lagi, supaya bisa menghidupkan industri kecil di Cirebon serta untuk membiayai program ini,” tutur Nurdiansyah.

April mendatang, nenek-nenek warga belajar di Sukapura akan menjalani ujian. Kalau lulus, dapat sertifikat, dan bisa ikut program pembelajaran lanjutan dari Yappika. Bu Saidah, pun bersiap ikut ujian. Perempuan yang mengaku pernah mengenyam bangku kelas 2 SD ini kini mulai lancar membaca. Ia mengaku tak malu belajar di usianya yang sudah senja. “Disindir sih disindir. Cuma kita lalu memberi semangat pada anak. ‘Mamak aja yang sudah tua pengen sekolah, kenapa kamu nggak? Jadi buat anak juga semangat.”

Semangat juga ditunjukkan Bu Jahuro, nenek bercucu empat itu. Meski penyakit diabetes yang ia derita selama sembilan tahun terakhir membuatnya kerap terbaring di tempat tidur.  “Kalau lagi angot ya nggak sekolah. Kalau lagi anu ya nggak sekolah. Ini kan masih bengkak kaki saya. Tangan sampai begini. “

Tag :