SEMANGAT PARA IBU MARUNDA UNTUK BELAJAR MEMBACA

Diterbitkan pada | Selasa, 04 Agustus 2020

Oleh Nurdiyansah (Relawan YAPPIKA)

Sebuah nasehat mengatakan bahwa tidak ada
batasan umur belajar. Apalagi, halangan belajar bukan datang dari dalam diri,
melainkan disebabkan oleh faktor lingkungan, yaitu ketidakadilan karena
minimnya akses pendidikan yang layak bagi masyarakat miskin. Hal ini terjadi pada
kaum ibu di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Cukup banyak ibu yang berusia lebih
35 tahun atau lebih yang masih mengalami aksara, namun umur yang tidak lagi muda
ternyata tidak mengendurkan semangat mereka untuk belajar baca tulis dan
berhitung.

Antusiasme para ibu yang kebanyakan
berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini untuk bisa membaca, menulis, berhitung
tersebut jelas terlihat pada saat dilakukan sosialisasi rencana kegiatan
pembelajaran keaksaraan fungsional (KF) oleh YAPPIKA bersama relawan pada hari
Sabtu lalu (10/07/2010) di pelataran Rusunawa RW 07, Marunda. Siang itu, lebih
dari empat puluh orang ibu beramai-ramai datang di kegiatan sosialisasi untuk berbagi
cerita dengan warga belajar yang telah mengikuti kegiatan KF, tujuan kegiatan
KF, kaitan kegiatan KF untuk mengupayakan akses terhadap pemenuhan hak-hak
dasar warga serta berkenalan dengan para relawan YAPPIKA yang akan memfasilitasi
para warga buta aksara untuk belajar baca-tulis-hitung dan melatih untuk berani
bicara di depan umum. Kegiatan sosialisasi dilakukan di ruang terbuka dengan
menggunakan Yappika Life, sebuah mobile library yang dilengkapi dengan ruang
pertemuan, perangkat pemutar video dan sound system.



Seperti telah diinformasikan melalui
berita sebelumnya, program keaksaraan fungsional telah dilakukan YAPPIKA
bersama para relawan selama 6 bulan, mulai Januari 2010, dan atas biaya penuh
dari donasi publik. Program pembelajaran KF ini ditujukan bagi para ibu buta
huruf yang sebagian besar tinggal di kawasan miskin kota. Tentu saja, bukan
sekedar baca-tulis yang diajarkan, melainkan pula pengenalan terhadap hak-hak
dasar terkait pelayanan publik melalui advokasi terhadap proses administratif
perolehan KTP, KK (Kartu Keluarga), Jamkesmas, maupun akte kelahiran.

Acara sosialisasi dimulai dengan sambutan
Ketua RW 07, Bpk. Aman, yang mendukung penuh terlaksananya program KF di
kawasan Marunda. Diskusi dan bincang-bincang yang difasilitasi oleh Elita dari
YAPPIKA, juga turut diisi oleh tutor lokal, perwakilan tutor dari Relawan
YAPPIKA, dan perwakilan warga belajar. Dengan malu-malu, para ibu memberanikan
diri bertanya dan menceritakan pengalaman pahit karena tidak bisa membaca.
Seorang ibu yang selama beberapa bulan ini telah aktif menjadi warga belajar
mengaku bahwa dirinya pernah kesasar karena salah naik angkutan umum. Kesalahan
tersebut terjadi karena ia tidak bisa membaca tanda angka yang menjadi inisial
trayek angkutan umum. Ada juga ibu yang mengaku dirinya kerap harus menahan
malu karena tidak bisa mengisi formulir untuk pembuatan/perpanjang KTP. Yang
lainnya pun memaparkan kisah seputar kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi
lebih sulit bagi mereka yang tak mampu membaca, menulis, dan berhitung. Selain berbincang bersama, acara yang dipandu
oleh Diyan dan Mamet ini pula diramaikan dengan kuis dan permainan yang
diharapkan dapat lebih menyemangati para ibu untuk terus berkomitmen belajar
guna memerdekakan diri mereka sebagai perempuan yang sanggup mandiri. Para
perempuan yang tak lagi berusia muda ini tidak menginginkan ketertindasan yang
mereka alami ketika dulu mereka tidak diizinkan bersekolah oleh orangtua
(karena kemiskinan, orangtua mereka terpaksa mendahulukan saudara lelaki mereka
untuk sekolah), terjadi lagi kepada anak perempuan mereka.


Tag :