Diterbitkan pada | Jumat, 13 Maret 2026
SIARAN PERS
Orang Muda dan Demokrasi Digital: BASIS Luncurkan CSD e-Learning Platform
sebagai Investasi Masa Depan Ruang Sipil di Indonesia
Program BASIS (Building an Enabling Environment and Strong Civil Society in Indonesia)
Jakarta, 13 Maret 2026 – Di tengah transformasi digital dan dinamika demokrasi yang semakin kompleks, Program BASIS secara resmi meluncurkan Civil Society and Democracy (CSD) e-Learning Platform, sebuah infrastruktur pembelajaran digital yang dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas orang muda dan masyarakat sipil dalam berkontribusi terhadap perawatan demokrasi, ruang sipil, dan pembangunan nasional yang inklusif.
Peluncuran yang diselenggarakan di Warung Fotkop, Jakarta Selatan, ini mempertemukan pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, figur publik, komunitas kreatif, dan media nasional dalam satu momentum kolaboratif. CSD diposisikan bukan hanya sebagai Learning Management System (LMS), melainkan knowledge backbone ekosistem masyarakat sipil.
Demokrasi, Ekspresi, dan Ruang Sipil dalam Arsitektur Pembangunan Nasional
Memasuki periode implementasi RPJMN 2025–2029, Indonesia menekankan transformasi ekonomi, penguatan ketahanan nasional, pembangunan sumber daya manusia unggul, serta digitalisasi tata kelola. Dalam konteks ini, ruang sipil yang sehat bukan elemen periferal, melainkan fondasi yang menopang legitimasi kebijakan, kualitas partisipasi publik, dan keberlanjutan pembangunan itu sendiri.
Pengembangan CSD e-Learning Platform merujuk pada asesmen kebutuhan yang melibatkan 300 responden orang muda di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Hasilnya menunjukkan bahwa orang muda memiliki inisiatif tinggi dalam perubahan sosial, namun menghadapi tantangan keterbatasan literasi kebijakan, risiko hukum, hingga polarisasi dan disinformasi di ruang digital.
Ketua SEPAHAM Indonesia, Dr. Muktiono, S.H., M.Phil., yang menjadi narasumber dalam sesi talkshow, menegaskan:
“Demokrasi tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya ruang, tetapi oleh bagaimana ruang itu dikelola secara etis, deliberatif, dan berbasis pengetahuan. Kebebasan berekspresi yang sehat mensyaratkan kemampuan mengelola perbedaan, menghindari disinformasi, dan membangun diskursus konstruktif — khususnya di ruang digital. Penguatan kapasitas orang muda dan institusi pendidikan menjadi kunci agar partisipasi publik dapat dilakukan secara bermakna.”
Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, S.H., M.H., yang turut hadir sebagai narasumber, menyampaikan:
“Dalam kerangka RPJMN 2025–2029, penguatan partisipasi publik yang bermakna merupakan elemen strategis bagi legitimasi kebijakan. Transformasi digital membuka peluang bagi kolaborasi yang lebih inklusif, namun juga menuntut kepercayaan antar-aktor yang kuat. Orang muda dan masyarakat sipil adalah mitra strategis dalam memastikan pembangunan yang berkelanjutan dan tata kelola yang responsif.”
Ketua Perempuan Mahardhika, Mutiara Ika Pratiwi, menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat sipil dalam mendorong partisipasi inklusif:
“Ruang digital adalah ruang sipil. Ia bisa menjadi ruang kolaborasi, tetapi juga bisa menjadi ruang konflik. Organisasi masyarakat sipil perlu memperkuat advokasi berbasis data dan dialog konstruktif agar dapat berkontribusi nyata dalam seluruh proses kebijakan. Infrastruktur pembelajaran seperti CSD menjadi fondasi strategis untuk memperluas kapasitas tersebut secara berkelanjutan.”
Eva Nurcahyani dari Indonesia Corruption Watch (ICW), mewakili perspektif orang muda, menyoroti isu kualitas pelayanan publik:
“Pelayanan publik yang responsif adalah ukuran nyata dari demokrasi yang berjalan. Orang muda hari ini ingin berkontribusi, namun mereka butuh ruang yang nyata dan aman untuk menyampaikan kritik dan pengawasan. Media sosial membuka suara, tetapi kita perlu lebih dari sekadar ruang keluhan — kita butuh mekanisme yang benar-benar mendorong transparansi dan perubahan struktural.”
Infrastruktur Pembelajaran sebagai Investasi Jangka Panjang
CSD e-Learning Platform memuat tiga tema utama dan lebih dari 13 sub-tema, mencakup demokrasi, hak asasi manusia, pelayanan publik inklusif, advokasi kebijakan, kepemimpinan perempuan, keadilan iklim, kampanye kreatif, citizen journalism, tata kelola organisasi, hingga diversifikasi pendanaan OMS.
Platform ini menyediakan 15 modul pembelajaran, 15 video pembelajaran kontekstual, serta diperkuat dengan kolaborasi bersama lebih dari 20 universitas di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Eksekutif YAPPIKA, Fransisca Fitri Kurnia Sri, menegaskan:
“CSD adalah investasi demokrasi digital. Pembangunan berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kebijakan yang baik, tetapi juga pada kualitas partisipasi publik. Kita membutuhkan warga yang literat, kolaboratif, dan mampu membangun dialog berbasis pengetahuan.”
Musisi Baskara Putra (Hindia), sebagai Key Opinion Leader CSD, menyampaikan:
“Orang muda hari ini ingin berdampak. Ruang belajar seperti CSD memberi fondasi agar suara itu bisa menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.”
Kolaborasi untuk Arsitektur Pembangunan Nasional
Peluncuran ini juga menghadirkan sesi talkshow bertajuk "Demokrasi, Ekspresi, dan Kolaborasi: Ruang Sipil dalam Arsitektur Pembangunan Nasional", yang dipandu oleh Reza Rahadian selaku Goodwill Ambassador YAPPIKA. Sesi ini mempertemukan perspektif masyarakat sipil, lembaga HAM, akademisi, dan orang muda untuk membaca ulang posisi ruang sipil dalam arsitektur pembangunan nasional di Indonesia, khususnya dalam konteks RPJMN 2025–2029 dan komitmen terhadap SDGs Goal 16.
Reza Rahadian, sebagai moderator, menyampaikan refleksi:
“Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari panggung politik. Ia bisa dimulai dari ruang belajar dan percakapan yang jujur. Demokrasi membutuhkan warga yang berani berpikir kritis, tetapi juga mampu berdialog dan bekerja sama.”
Fondasi Kepercayaan untuk Masa Depan Demokrasi
Program BASIS telah menjangkau lebih dari 900 ribu orang melalui berbagai aktivitas digital, seni dan kampanye kreatif, serta berkontribusi dalam berbagai proses kebijakan dan diskursus publik di tingkat nasional maupun internasional. CSD e-Learning Platform menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas dampak tersebut secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Di tengah dinamika sosial dan digital yang terus berubah, demokrasi membutuhkan fondasi kepercayaan. CSD hadir sebagai ruang belajar inklusif dan kolaboratif untuk memperkuat literasi, jejaring, dan partisipasi bermakna orang muda di berbagai wilayah Indonesia.
Platform ini dapat diakses secara daring melalui csdplatform.id.
--------------------------------------------------------------------------------------------
TENTANG PROGRAM BASIS
Program BASIS merupakan inisiatif yang dikembangkan oleh YAPPIKA dan SEPAHAM-Indonesia, dengan dukungan dari Uni Eropa (EU), yang bertujuan memperkuat kapasitas dan peran masyarakat sipil di Indonesia. Program ini dirancang untuk mendorong terciptanya lingkungan pendukung (enabling environment) yang memungkinkan tumbuhnya masyarakat sipil yang kuat serta terbangunnya ekosistem kolaboratif antara masyarakat sipil, negara, dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga partisipasi publik dalam proses kebijakan dapat lebih inklusif dan bermakna.
BASIS diformulasikan dan diimplementasikan di atas empat pilar strategi utama:
1. Penguatan Infrastruktur Masyarakat Sipil, termasuk dukungan bagi OMS, OBH serta Pusat Studi dan Universitas di berbagai wilayah di Indonesia.
2. Transformasi Digital, melalui pengembangan platform pembelajaran, penguatan literasi digital, dan perluasan akses pengetahuan berbasis teknologi.
3. Riset, Pemantauan, dan Advokasi Kolaboratif, untuk memperkuat kebijakan publik yang berbasis data dan memperluas ruang dialog multipihak.
4. Pengembangan Kebijakan, yang mendukung kerja dan peran OMS, serta membangun kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan dan memperluas dampak program.
Pada akhir periode implementasi, BASIS menargetkan menjangkau hingga 10.300 orang muda, 225 OMS dan organisasi berbasis komunitas, 15 pusat studi dan universitas, 3 organisasi sumber daya (resource organisations) lokal, 5 OBH, 40 kolaborator kampus dan komunitas, serta 51 aktor pemerintah di berbagai tingkatan. Melalui komunikasi publik yang distrategikan, program ini juga menargetkan jangkauan hingga 4 juta penerima manfaat melalui berbagai aktivitas digital, kolaborasi media, hingga kampanye kreatif yang dilakukan secara offline maupun online.
Narahubung Media:
Muhamad Ananto Setiawan
BASIS National Programme Coordinator
+62 819-0887-1477
ananto.setiawan@yappika-actionaid.or.id