Sonya Masih Ingin Kuliah Pasca Rumah Makan Orang Tuanya Diterjang Longsor

Diterbitkan pada | Selasa, 06 Januari 2026

Sonya belum bangun dari tidurnya ketika orang-orang berkumpul di depan rumah makan mereka di Dusun III Parsikkaman, Desa Pagaran Lumbung I, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Selasa (25/12/2025) pukul 06.00 WIB. Ia terjaga dari kasur saat ibunya masuk ke kamar dan membuka jendela.


“Terus mama bilang, bangunlah, bantu mama, lagi ramai di sana. Saya kemudian bilang tumben masih pagi begini ramai. Kau nggak tahu apa yang terjadi di sini, rumah Bou (Tante) mu sudah hancur,” kata Sonya, mengawali ceritanya saat diwawancarai usai mewakili ibunya menerima bantuan dari YAPPIKA-ActionAid dan BITRA Indonesia, Selasa (22/12/2025).


Tidak lama setelah ibunya meminta bangun, Sonya bergegas langsung ke luar dan melihat bahwa bukit dekat rumah tantenya sudah longsor dan kendaraan roda empat hingga truk terjebak di tengah longsoran tanah. Dia mengatakan bapaknya dan warga sekitar berupaya membantu agar kendaraan bisa lewat. Upaya itu cukup membantu. Mobil lain pun bisa melintas.


Arus lalu lintas pada siang hari masih lancar, namun menjelang sore tanah kembali longsor. Hujan dengan intensitas deras terus datang sehingga bukit yang tepat di sebelah kiri rumah Sonya ikut rubuh. Tanah longsor di bagian depan dan samping itu membuat Sonya dan keluarganya terjebak di dalam rumah. Nyaris tidak ada jalan keluar karena mobil dan truk yang terparkir di depan rumahnya juga didorong tanah ke arah mereka. Hujan juga belum reda, dan jaringan komunikasi pun sudah tidak ada.


Hari mulai gelap, Sonya, ibu dan bapaknya semakin khawatir karena dua adiknya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Adian Koting, belum pulang. Sonya mengatakan, bapak akhirnya memutuskan pergi untuk menjemput.


“Jadi bapak saya melewati hutan pergi untuk mencari adik saya, karena sampai sore nggak pulang-pulang. Malamnya mama dan saya masih khawatir, papa dan adik-adik saya juga belum pulang, terus lampu padam. Kami tunggu sampai jam 8 malam. Nah, kami dengarlah suara adik-adik saya, terus mama langsung nangis. Adik saya datang dengan selamat,” tutur Sonya.


Dia menceritakan bahwa kedua adiknya bisa pulang setelah melewati semua titik longsor yang menutup jalan. Akan tetapi mereka tidak bertemu dengan bapaknya, yang tadinya berjalan melintasi hutan. Sonya pun kembali dirundung kekhawatiran. Untung saja, ibunya mencoba menenangkan Sonya serta adik-adiknya dengan mengucapkan bapak pasti baik-baik saja. Mereka pun tidur tanpa penerangan.


Namun pada Rabu (26/12/2025) pukul 02.00 WIB, Sonya mendengar ibunya ribut di luar, ternyata Kepala Desa meminta mengungsi ke rumah mereka. Tempat tinggal Kades itu kebanjiran dan tidak bisa dihuni. Sudah dipenuhi air dan lumpur. Mereka ke rumah kami karena masih aman setelah beberapa mobil menghalangi lumpur masuk ke rumah. Tapi rumah makan orangtua Sonya sudah rusak parah. Bagian belakang longsor dengan tanah. Saat hari mulai terang, Sonya bersama keluarganya terpaksa harus keluar rumah setelah air membelok ke rumah.


Awalnya, ibu menyuruh Sonya dan adiknya pergi lebih dahulu, tapi ia menolak. Dia bilang, ‘kalau ibu di sini, kami juga tetap di sini’. Jadilah semua pergi. Pertama melihat beberapa jalan di depan, tapi tidak memungkinkan untuk dilewati karena tanah longsor. Mereka lalu bergerak dari samping rumah, namun saat di belakang rumah tiba-tiba air dan tanah meluap. Rumah langsung dihempas pada bagian samping beserta mobil-mobil.


Akhirnya memilih jalan pertama. Di sana mereka melihat satu pohon yang jatuh membentang. Pohon itu lalu mereka jadikan sebagai jembatan untuk pergi ke tempat yang lebih aman. Proses menuju pohon itu pun sangat sulit karena harus melewati lumpur setinggi. Setelah melalui banyak rintangan itu, Sonya melihat sudah banyak orang berkumpul dan ia dibawa ke rumah warga lainnya.


Sebelum pergi, Sonya masih bertanya kepada warga yang berkumpul apakah melihat bapak atau tidak. Ada yang melihat dan mengatakan pergi bersama orangtua lainnya menjemput anak-anak ke sekolah.


“Terus Bapak itu baru pulang sekitar jam 12 siang. Katanya dia terjebak longsor.Adik-adik duluan sampai. Mereka tidak ketemu karena mengikuti jalan raya itu meski pun longsor, orang Bapak lewat hutan-hutan,” ucap Sonya, dengan suara terbata-terbata.


Sonya lanjut menuturkan, bersyukur sekali karena kalau melihat dan mengingat longsor itu seperti tidak mungkin mereka bisa selamat, apalagi yang datang air dan lumpur.


“Untung Tuhan masih ingatkan kami nggak jadi pergi dari belakang rumah karena air langsung menghempas bagian rumah itu. Kalau nggak banyak juga korban yang bakalan meninggal,” ujar perempuan yang baru tamat SMA itu.


Sehabis musibah, masalah besar dan mungkin berkepanjangan tentu akan dihadapi, tapi Sonya masih tetap merawat semangatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Perguruan Tinggi. Sekalipun, usaha rumah makan orangtuanya sudah diporak-porandakan banjir dan longsor. Sonya menyadari kesulitan-kesulitan tersebut dan sangat terpukul dan sedih dengan kondisi yang dialami dan warga lain di desanya.


“Kesulitan kita itu orang tua saya kehilangan usaha, sudah hancur. Saya nangis karena saya masih mau kuliah. Saya gap year (istirahat satu dan dua tahun) tapi saya juga masih ingin kuliah. Melihat kondisi orang tua saya bagaimana saya bisa kuliah. Saya rencana mau kuliah di Universitas 11 Maret,” ucap Sonya, sedih.


Sejauh ini, belum ada kesulitan lain, karena kebutuhan pangan masih dibantu Pemerintah dan masyarakat. Sementara rumah masih bisa ditempati. Hanya saja, Sonya mengaku trauma, apalagi pada saat hujan datang. Dia langsung teringat dengan peristiwa saat mereka terjebak dua longsor dan tidak bisa pergi ke mana-mana.

Tag :