Diterbitkan pada Sabtu, 02 Mei 2026
Sari Wijaya berjalan tegap memimpin barisan Aliansi Perempuan Indonesia di bawah sengatan matahari yang membakar kulit di kawasan Sarinah. Langkah kaki mereka bermula dari Dukuh Atas sejak pukul delapan pagi demi menyuarakan kegelisahan hati para buruh perempuan hari ini.
Perwakilan aliansi ini menitikberatkan pentingnya upah yang layak serta jaminan sosial bagi seluruh buruh, terutama pada sektor pekerja perempuan. Beliau melihat masih banyak pekerja informal seperti tenaga lepas yang belum memiliki aturan perlindungan hukum kuat saat ini.
“Kalau untuk hari buruh sendiri, teman-teman gerakan perempuan, pasti ya bicara soal hak upah layak kepada buruh dan buruh perempuan. Kemudian, jaminan sosial, terus jaminan kerja, apalagi soal pekerja informal,” ujar Sari Wijaya dengan tegas.
Sari menjelaskan bahwa aliansi ini merupakan gabungan sembilan puluh tiga organisasi yang memiliki kepedulian sama terhadap situasi negara saat ini. Mereka fokus membicarakan hak-hak buruh perempuan agar mendapatkan akses dan kualitas hidup yang lebih baik melalui perbaikan sistem secara menyeluruh.
“Menurut saya isunya jadinya ternyata bukan soal upah saja, tapi secara sistem Indonesia memang sudah harus banyak diperbaiki. Dari segi akses dan kualitasnya, transportasinya, rumah yang layak mungkin, terus juga selain upah yang layak gitu ya,” ucapnya.
Keamanan di lingkungan kerja serta perlindungan dari kekerasan seksual menjadi isu penting yang dibawa oleh teman-teman Aliansi Perempuan Indonesia. Kebebasan berpendapat dalam berserikat juga diharapkan dapat berjalan tanpa adanya tekanan agar hak-hak pekerja tetap terjaga dengan aman dan baik.
“Kita tahu misalnya banyak juga situasi-situasi kayak union busting. Kemudian juga ada hal-hal terkait keamanan perempuan di ruang pekerjaan, soal KS (kekerasan seksual) mungkin juga keamanan digital, dan lain-lain,” kata Sari.
Situasi transportasi publik yang tumpuk menumpuk setiap hari, Sari rasa menjadi cerminan sulitnya kondisi ekonomi masyarakat yang harus urban mencari pekerjaan. Sistem yang lebih baik sangat dibutuhkan agar para pekerja tidak perlu berebut akses hanya untuk bisa sampai ke tempat kerja.
Sari berpesan agar buruh perempuan tetap kritis karena dirinya menyadari bahwa saat ini kondisi gerakan sudah banyak mengalami fragmentasi. Beliau mengingatkan bahwa perjuangan masih sangat panjang mengingat teman-teman buruh perempuan masih memiliki banyak kerentanan di dalam sistem kerja.
Artikel ini telah tayang di RRI pada 1 Mei 2026 ditulis oleh Anisa Putri Haniyah dengan judul serupa.