Diterbitkan pada | Rabu, 29 Juli 2020
Jakarta – Kejadian bangunan sekolah rusak yang memakan korban terus terjadi di Indonesia. Setelah bangunan SDN Gentong di Pasuruan, Jawa Timur, baru-baru ini bangunan SMKN Miri di Sragen juga roboh. Pemerintah harus membuat terobosan untuk menyelesaikan masalah sekolah rusak lebih cepat. DPR harus mendorong pemerintah membuat roadmap penyelesaian sekolah rusak.
2
korban jiwa dan 11 korban luka di Pasuruan serta 22 korban di Sragen telah
menambah panjang daftar korban akibat sekolah roboh. Sebelum dua kejadian
terakhir tersebut, berdasarkan pemantauan YAPPIKA-ActionAid, sejak tahun 2015,
telah ada 4 siswa yang menjadi korban jiwa dan 73 siswa yang menjadi korban
luka akibat bangunan sekolah yang roboh.
Ke
depan, jika tidak ada terobosan, daftar panjang anak yang menjadi korban sekolah roboh masih mungkin bertambah, khususnya anak usia
SD yang jumlahnya paling banyak. Saat ini, diperkirakan masih ada lebih dari 6
juta anak yang belajar di ruang kelas rusak sedang dan berat yang bisa roboh
kapan saja.
Saat
ini, masih ada lebih dari satu juta ruang kelas dalam kondisi rusak sedang dan
berat. Dalam 5 tahun terakhir, persentase jumlah ruang kelas rusak sedang dan
berat pada tingkat sekolah dasar stagnan di angka 18-19%. Padahal, pemerintah
pusat telah mengalokasikan dana 18,5 triliun rupiah untuk perbaikan dan
pembangunan sekolah rusak melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik kepada
pemerintah daerah.
Dana
tersebut belum termasuk dana yang bersumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan
dana yang langsung dilaksanakan oleh pemerintah pusat yang per tahun 2019
dialihkan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Masalah
sekolah rusak tidak akan selesaikan jika terus dikerjakan secara business
as usual. DPR harus menguatkan peran pengawasannya dan mendorong pemerintah
untuk membuat roadmap penyelesaian sekolah rusak dengan anggaran yang lebih
akseleratif, tata kelola yang lebih akuntabel, dan pelibatan sekolah serta
masyarakat untuk mengurangi penyimpangan dalam pelaksanaan pembangunan.
Mendesak lahirnya roadmap nasional adalah langkah struktural, namun perlindungan anak-anak dari bahaya atap sekolah yang roboh hari ini memerlukan tindakan darurat yang nyata. Melalui kampanye #SekolahAman, YAPPIKA-ActionAid bersama mitra komunitas di berbagai daerah terus mengawal transparansi anggaran pendidikan sekaligus memberikan bantuan fasilitas darurat bagi sekolah-sekolah kritis di pelosok. Anda bisa menjadi bagian dari solusi ini dengan memberikan donasi untuk Sekolah Aman. Dukung perjuangan kami menyediakan ruang kelas yang layak dan aman bagi masa depan anak-anak Indonesia.