Diterbitkan pada | Rabu, 07 September 2022

Kecamatan Sumur menjadi pusat gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 terjadi pada Jumat (14/1/2022) pukul 16.05 WIB. Gempa bumi di awal tahun 2022 ini merupakan memori bencana yang masih segar di ingatan Bu Cicih. “Di sini memang sering terjadi gempa bumi, tapi yang kekuatannya dasyat, saya baru mengalami awal tahun ini” jelas Bu Cicih. Akibat gempa bumi tersebut, banyak rumah yang rusak, termasuk rumah orang tua Bu Cicih. “Rusak berat, bagian belakang rumah hampir roboh”.
“Efek gempa terasa sampai lama, karena pada saat itu, banyak motor (perahu motor, red) yang mengalami kerusakan. Para nelayan takut melaut. Ada trauma yang lama hilangnya” lanjut Bu Cicih, beliau paham betul kesulitan para nelayan melaut, karena suami Bu Cicih adalah seorang nelayan.
Sehari-hari Bu Cicih sibuk mengurus anak, mengurus rumah dan mengurus warung yang menyediakan banyak kebutuhan, mulai dari gas sampai ikan asin, mulai dari pembalut wanita sampai bedak. Selain itu Bu Cicih juga mengolah ikan hasil tangkapan suami.
“Suami saya berangkat ke bagong (karamba tempat nelayan menangkap ikan di laut) jam 2 malam. Kalau lagi alongan (tangkapan ikannya banyak), maka pulangnya bawa ikan sisa dari pelelangan. Ikan itu harus saya olah, agar tidak busuk”. Biasanya ikan hasil tangkapan diolah jadi ikan asin, tapi belakangan ini pendapatan nelayan makin turun, ikan makin susah di dapat. Untuk bisa mendapatkan ikan, bagong harus digeser makin ke tengah laut.

Kesibukan sebagai ibu rumah tangga dengan 3 anak lagi-laki, Bu Cicih masih sempat memangku jabatan sebagai sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Karena jabatan inilah Bu Cicih bersinggungan dengan staf lapangan dari Pattiro Banten dan YAPPIKA-Action Aid yang butuh mencari informasi apapun tentang Desa Tamanjaya. “Awalnya saya malu untuk ikutan, tidak tahu kalau program yang dijalankan di kampung kami terbuka untuk siapapun. Setelah tahu saya senang sekali, semua kelas atau pelatihan saya ikuti,” lanjut Bu Cicih.
Setelah terbentuknya forum perempuan di setiap kampung di Tamanjaya, ibu-ibu jadi lebih paham tugas dan kewajiban, juga jadi lebih terbuka pikirannya akan banyaknya peluang usaha. Misalnya sekarang memproduksi ikan dendeng. Ikan asin jenis ini biasanya dijual di warung Bu Cicih, “Kadang ada permintaan dari luar daerah Pandeglang seperti kemaren ada permintaan ikan asin selar 20 kg ke Tangerang. Kalau di Tamanjaya, ikan asin kadang juga dibarter dengan beras dari kampung sebelah, berasnya nanti saya jual.”
Sebagai orang yang disegani di Kampung Peundeuy dan Desa Tamanjaya, Bu Cicih sering jadi tempat pengaduan penyintas kekerasan terhadap perempuan dan anak, terakhir Bu Cicih membantu sebuah kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Tamanjaya. Adalah 2 orang anak perempuan usia 8 dan 6 tahun telah mengalami kekerasan seksual dari pamannya. Kasus yang menggemparkan masyarakat Tamanjaya.
Adalah sebuah rangkaian panjang penanganan kasus ini. Ada anak yang harus dilindungi, diberikan pendampingan agar terpelihara masa depannya, ada pelaku yang harus ditindak agar jera dan tidak ada lagi korban berikutnya. Di bawah koordinasi Bu Cicih, forum perempuan Tamanjaya melakukan segala tindakan agar kasus ini tertangani dengan baik. Polemik terjadi karena penyintas dan pelaku berasal dari satu keluarga besar dan adanya upaya perlindungan terhadap pelaku. Bu Cicih pun melakukan tindakan sesuai standar penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, tak gentar dengan ancaman yang diarahkan kepadanya.
“Sebenarnya saya juga hawatir, setiap hari HP saya tak berhenti ditelfon, apalagi ada ancaman akan melaporkan saya ke polisi atas pencemaran nama baik. Tapi saya tidak takut, karena penanganan kekerasan ini sudah mengikuti standar yang diajarkan pada kami, ada payung hukum yang melindungi dan ada bukti kekerasan seksualnya yaitu hasil visum (Visum et Repertum) dan pengakuan penyintas.” Akhirnya segala kekacauan itu reda. Pendampingan penyintas berjalan baik, hanya pelakunya melarikan diri dan sekarang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang).
Selain menangani kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga)dan kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Tamanjaya, Bu Cicih juga memimpin koperasi simpan pinjam yang bernama “Berkah Jambu Batu,” yang beranggotakan ibu-ibu dari kampung Peundeuy, kampungnya Bu Cicih. Koperasi ini menjadi berkah bagi anggota yang butuh pinjaman uang. Nama Berkah Jambu Batu terinspirasi dari sebatang pohon jambu batu yang tumbuh di depan saung tempat mereka biasa berkumpul, mengadakan pelatihan dan sosialisasi. Pohon ini selalu berbuah dan setiap hari dipetik buahnya oleh orang yang lewat. Dari sanalah ide nama koperasi ini muncul.
“Setiap saya mendapatkan pelatihan, biasanya saya langsung menginfokan ke ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Berkah Jambu Batu yang selalu antusias menyambut program apapun. Pohon jambu inilah yang jadi saksi sekaligus menyediakan konsumsi. Dan saya suka dengan filosofi pohon jambu batu, pohonnya alot (kuat), banyak cabang memudahkan kita memetik buahnya, daunnya bermanfaat untuk obat dan berbuah tak kenal musim.”