Diterbitkan pada | Rabu, 20 Oktober 2021

Jalanan terjal berbatu sepanjang tiga kilometer harus ditempuh murid SD di Kabupaten Sumba Barat untuk mencapai sekolah.
Waktu menunjukkan jam 6.30 pagi. Ina, 11 tahun, murid kelas 5 SD di Kecamatan Lamboya, Sumba Barat, bergegas menyelesaikan sarapan. Pagi itu, ibu Ina menyiapkan nasi goreng kesukaannya yang ia santap hingga habis. Ia segera mengambil tas dan memakai sepatu, kemudian berpamitan kepada ibunya untuk berangkat ke sekolah.
Ina berjalan sendirian dari rumahnya menuju batas kampung. Di sana ia bertemu seorang temannya untuk bersama-sama berjalan kaki ke sekolah. Jarak sepanjang tiga kilometer mereka tempuh tanpa banyak mengeluh. Pagi itu mereka berjalan cepat. Sesekali mereka berlari karena sudah kesiangan. Mereka takut terlambat tiba di sekolah.
Jalanan terjal mendaki tak menyurutkan langkah Ina. Ia tetap berjalan dengan langkah ringan. Hamparan sawah dan padang rumput ia lalui dengan satu tekad untuk menimba ilmu di sekolah. Tawa kecil sesekali terdengar dari Ina dan kawannya yang berjalan sambil bercanda. Di tengah perjalanan Ina berhenti untuk melepas sepatunya. Ia harus menyeberangi aliran sungai sehingga sepatunya harus dilepas agar tidak basah.
Mereka harus melepas sepatu agar tidak basah saat menyeberang sungai. Di musim hujan sungai ini sering banjir sehingga Ina dan murid lain tidak bisa berangkat ke sekolah.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Ina tiba di sekolah. Hari itu ia harus mengikuti ulangan tengah semester. Perlahan ia menyeka peluh di dahinya. Ia tiba di sekolah saat ujian sudah dimulai. Guru kelas memberikan waktu untuk Ina dapat beristirahat sejenak sebelum mulai mengerjakan soal-soal ujian.
Selama pandemi sekolah Ina tetap menjalankan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tatap muka meskipun tidak dilakukan setiap hari. KBM daring tidak dapat dilakukan di wilayah tersebut karena kendala jaringan. Selain itu, tidak semua guru dan siswa memiliki gawai atau telepon pintar untuk digunakan dalam pembelajaran daring.
Seperti umumnya sekolah di pelosok, kondisi sekolah Ina jauh dari kata mewah. Bahkan layak pun masih kurang. Sejumlah kelas mengalami kerusakan yang cukup parah. Atap ruang kelas kebanyakan sudah jebol, kondisi tembok pun retak dan sebagian terkelupas. Toilet sekolah juga tidak memberikan kenyamanan bagi penggunanya karena air yang terbatas.
Kondisi ruang kelas yang rusak dengan atap yang hampir jebol dan sebagian tembok yang terkelupas lapisan semennya.
Tepat jam 11.00 lonceng dipukul menandai waktu berakhirnya KBM di sekolah. Ina segera mengemasi bukunya ke dalam tas. Setelah berdoa bersama, guru mengijinkan murid untuk keluar satu per satu dari kelas. Ina berlari menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu untuk pulang bersama-sama.
Kembali rombongan anak-anak ini berjalan beriringan menyusuri rute yang sama. Menapaki jalan yang terjal berbatu dan mendaki, melewati aliran sungai dan hamparan padang rumput dan sawah yang berwarna kekuningan karena kering. Lapar dan haus di tengah hari yang terik membuat langkah mereka sedikit lemah. Sesekali mereka berhenti untuk mencari buah-buahan yang bisa dimakan sebagai pengganjal perut dan pelepas dahaga sementara.
Setiba di perbatasan kampung Ina berpisah dengan teman-temannya. Rumah Ina berlokasi terpisah di luar kampung dan berada di tengah kebun. Di rumah tersebut Ina tinggal bersama ibu, adik, kakek dan anggota keluarga lain yang berjumlah 10 orang. Ina segera berganti baju. Kemudian ia berbaring sejenak di bale-bale untuk menghilangkan lelah. Tak lama ibunya memanggil Ina untuk makan siang, namun Ina menolak. Tidak lapar katanya. Ibunya hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas.
“Ina ini susah sekali disuruh makan. Saya sudah paksa dia makan tapi anaknya susah. Saya takut dia sakit karena harus jalan jauh setiap hari ke sekolah”, kata ibu Rachel, ibunda Ina. Ibu Rachel kemudian bercerita bahwa Ina pernah pingsan dalam perjalanan pulang dari sekolah. “Karena tidak pernah mau disuruh sarapan, anak saya pingsan di jalan. Untungnya banyak yang tolong. Orang-orang yang kerja di sawah tolong anak saya”, tutur ibu Rachel. Setelah kejadian tersebut ibu Rachel selalu memaksa Ina untuk sarapan.
Ina anak yang rajin. Ina sangat jarang tidak masuk sekolah kecuali sedang sakit atau sungai yang biasa dilalui menuju sekolah sedang banjir. Di rumah Ina juga rajin belajar setelah selesai membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, mengambil air di mata air atau mengasuh adik dan keponakannya.
Ina sedang belajar ditemani ibunya.
Selain membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Ina juga harus membantu ibunya membuat garam tanah. Setiap sore mereka bekerja di sekitar pantai mengolah tanah yang mengandung garam untuk dimasak menjadi garam. Sebuah pekerjaan yang cukup berat bagi anak perempuan berumur 11 tahun. Tapi Ina tak punya pilihan lain atau menolak membantu ibunya, karena hasil penjualan garam sangat berarti untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Ina membantu ibunya membersihkan tanah garam untuk diolah menjadi garam.
Ina di usia yang masih belia sudah terlatih untuk berjuang. Ia tak pernah lelah berjalan jauh ke sekolah untuk memperjuangkan haknya mendapatkan pendidikan. Di rumah, ia juga berjuang, bekerjasama dengan ibunya di ladang garam demi mencari nafkah untuk keluarga.
Dalam momentum Bulan Anak Perempuan Internasional. YAPIKA-ActionAid mengajak Anda untuk berkontribusi dalam menyediakan akses bagi anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan fasilitas pendidikan yang layak. Perjuangan Ina berjalan kaki sejauh tiga kilometer setiap hari rasanya tidak adil baginya, karena saat tiba di sekolah sarana dan prasarana yang ada di sekolahnya tidak cukup layak. Akses atas pendidikan yang didukung sarana dan prasarana yang layak memungkinkan anak perempuan mengembangkan pengetahuan, keterampilan hidup dan potensi yang mereka miliki. Pendidikan membantu anak perempuan seperti Ina untuk memahami permasalahan yang terjadi di sekitar mereka, mencari solusi dan mengupayakan perubahan. Sehingga terbuka kemungkinan atas perbaikan kualitas hidup anak perempuan yang pada akhirnya berkontribusi pada kesejahteraan keluarga dan komunitas.
Sepanjang tahun 2016-2020 YAPPIKA-ActionAid telah bekerja untuk meningkatkan kualitas pelayanan dasar khususnya pendidikan dengan mengutamakan perhatian pada kebutuhan kelompok rentan karena disabilitas, kepercayaan, dan jenis kelamin. YAPPIKA-ActionAid juga memastikan akses pendidikan bagi anak perempuan terpenuhi. Anda dapat mengambil peran dengan mendukung upaya YAPPIKA-ActionAid mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak khususnya anak perempuan agar hak mereka terpenuhi.
Bantu anak-anak seperti Ina agar haknya untuk belajar dengan layak terpenuhi di sini.