Diterbitkan pada | Rabu, 12 Oktober 2022
“Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan” Gadis mungil yang murah senyum itu mulai bercerita. “Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ibu bekerja tak kenal lelah untuk menghidupi kami tiga bersaudara karena ayah sakit dan tidak bisa mencari nafkah. Apapun beliau lakukan, menjual ikan keliling, sayur dan masakan hasil masakan sendiri keliling kampung. Dulu sebelum pandemi keadaan lebih baik, karena banyak pengunjung dan wisatawan, jadi makanan yang ibu jual banyak yang beli. Tidak hanya menawarkan makanan, saya juga ikut membantu dengan menawarkan sewa tikar. Saat itu rasanya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga terasa lebih gampang.”
Ulfi merupakan anak sulung dari 3 bersaudara yang sekarang menempuh pendidikan semester 6 di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darunnajah Menes Pandeglang. Selain sibuk kuliah, Ulfi juga menjadi guru honorer di Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al-Khairiyah Pasauran Kabupaten Serang. Kerja sambil kuliah harus dilakoni Ulfi agar bisa membayar biaya kuliahnya. Tidak hanya harus membantu ekonomi keluarga, Ulfi juga bertekat memberi contoh terbaik untuk adik adiknya. Menurut Ulfi, tidak mudah tumbuh dari keluarga miskin karena seringkali orang memiliki pandangan rendah pada dirinya karena latar belakang ekonomi keluarga yang tergolong tidak mampu.

Setiap mengemukakan pikiran dan gagasannya, Ulfi merasa tidak diterima dengan baik oleh warga dan petinggi di desanya. “Kamu anak siapa?” menjadi pertanyaan yang berat untuk Ulfi, terkesan merendahkan dan dipandang sebelah mata. Tidak hanya menggerus rasa percaya dirinya, Ulfi juga menjadi anak yang pendiam. Menjadi pasif adalah sistem pertahanan diri yang ampuh dan tidak mendatangkan polemik apapun.
Namun itu semua adalah cerita Ulfi yang lama. Saat ini tidak ada jejak gadis pendiam dan pasif pada diri Ulfi. Dia menjelma menjadi anak muda energik yang melihat dunia sebagai tempat pembuktian diri dan itu dimulai dari titik yang paling dekat dengan jati dirinya, Desa Umbul Tanjung. Ulfi mengalami proses pengenalan diri yang luar biasa, menjadi sadar akan potensi dirinya dan yakin dengan kemampuan yang dia punya.

Perubahan diri dimulai ketika mengikuti program PATTIRO Banten dan YAPPIKAActionAid, yang mendorong Ulfi untuk lebih banyak terlibat dalam aktifitas remaja dan perempuan di Desa Umbul Tanjung, Kabupaten Serang. Awalnya Ulfi mengikuti program bersama ibu-ibu, karena menjadi satu-satunya remaja yang aktif di program, Ulfi kemudian mengusulkan untuk membentuk forum remaja. Menurut Ulfi remaja juga sangat membutuhkan pemahaman akan pengurangan Resiko Bencana, apalagi tentang topik perlindungan terhadap perempuan dan anak. Jika sudah memahami topik tersebut sejak dini, Ulfi yakin dimasa yang akan datang, kasus kekerasan domestik dapat dikurangi.
Ulfi juga terus mengasah pemikiran kritisnya, yang dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat. Kemampuan itu didukung oleh jangkauan pengamatan Ulfi yang baik. Awalnya, Ulfi mendengar dan melihat ada yang tidak biasa pada aliran sungai yang menjadi batas Desa Pasauran dan Desa Umbul Tanjung. Sungai tersebut digunakan oleh warga desa untuk mandi dan mencuci. Air sungai yang biasanya jernih, saat itu sempat ada aliran cairan hitam dan berdampak pada kesehatan masyarakat desa.
Setelah diselidiki ternyata terjadi kebocoran limbah sebuah perusahaan yang beroperasi di daerah itu. Ulfi dengan bantuan tim PATTIRO Banten (ANCP fase ketiga), kemudian melakukan advokasi dengan pihak manajemen perusahaan tersebut. Usaha Ulfi mendapat dukungan warga kampung dan dengan kerjasama yang baik, mereka berhasil ‘memaksa’ pihak perusahaan air membenahi sistem limbahnya agar tidak mencemari sungai, dan memberikan kompensasi bagi masyarakat yang dirugikan.
Tidak hanya menginisiasi terbentuknya Forum Remaja Desa Umbul Tanjung, Ulfi juga membantu pencarian dana karena untuk bisa beraktifitas dan melaksanakan berbagai pelatihan butuh dukungan dana yang cukup. Dari pertemuan dengan pemuda pemudi di forum tersebut muncullah gagasan untuk mengaktifkan kembali sebuah musholla. Program tersebut kemudian diberi nama Musholla Edukasi.

“Ada musholla terbengkalai di kampung Ulfi, dan gak ada jemaahnya. Dari pada sia-sia alangkah baiknya kalau kita hidupkan lagi. Nanti disana akan menjadi tempat ibadah warga, juga pusat aktifitas forum remaja. Karena saat ini kami tidak memiliki tempat tetap untuk beraktifitas.” Ide Mushola Edukasi ini muncul karena Ulfi melihat kebutuhan untuk tempat beraktifitas bagi pemuda di desanya. Tidak hanya mengaktifkan Musholla ke fungsinya semula, nanti disana juga akan dijadikan tempat edukasi anak-anak dan remaja.
“Kadang kreatifitas itu muncul saat berkumpul bersama. Ketika satu ide keluar maka yang lain akan menambahkan sehingga gagasan itu makin kuat dan makin mudah direalisasikan,” ujar Ulfi yang saat ini bersama teman-temannya sudah mendapatkan izin dari pemilik mushola tersebut. Langkah selanjutnya, mereka akan memikirkan cara mengumpulkan dana untuk merealisasikan program Musholla Edukasi. Ulfi yakin, jika ide ini terwujud, banyak permasalahan kampung dan permasalahan remaja bisa diatasi. Karena menurut Ulfi, ketika seorang remaja tidak punya aktifitas, mereka cenderung mudah terpengaruh hal-hal buruk yang membawa kerugian bagi dirinya sendiri, keluarga bahkan masyarakat.
Ulfi dan forum remaja desanya sudah memiliki rencana rinci tentang Musholla Edukasi. Di sana nanti akan ada taman bacaan, karena semua orang harus mulai menyadari pentingnya membaca. Di sana juga akan ada kelas Taman Pendidikan AlQur’an untuk anak-anak. Tanah kosong di samping musholla juga bisa dijadikan sarana belajar serta ditanami dengan tanaman.
Ulfi gadis muda pemalu itu menjelma menjadi corong masyarakat yang menyuarakan ketidakdilan, kesetaraan gender dan mengispirasi para remaja putri bahwa tidak peduli seperti apa kita dilahirkan dan dari keluarga mana kita berasal. Kita yang menjadi alasan perubahan nasib, bukan orang lain, jadi berjuang dan terus berjuang, maka nanti jalan keluar akan ditemukan bagi siapa yang mau berusaha. Permasalahan hidup, kerja bagai kuda mencari biaya kuliah dan merubah nasib keluarga belum selesai, tetapi Ulfi sekarang memiliki keyakinan yang jauh lebih besar.