Cerita Penyintas Gempa Cianjur: Warung Berkah Tati Taswiah

Diterbitkan pada | Selasa, 20 Desember 2022

Sejak 2-7 Desember 2022 tim YAPPIKA-ActionAid bersama dengan PPSW Pasoendan Digdaya melakukan Kajian Cepat Gender dan Kajian Resiko Kekerasan Berbasis Gender berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan DPPKBP3A Kabupaten Cianjur. Tim YAPPIKA-ActionAid mewawancarai Tati Taswiah (43 tahun) dari Desa Cijedil, Cianjur. Pada 5 Desember 2022 tim YAPPIKA-ActionAid berbincang dengan Tati di ruang tamu, sementara sekelompok perempuan berbincang di luar rumah.

Di tempatnya mengungsi kini, ada 8 keluarga dengan total 35 orang, mereka tinggal di rumah kontrakan milik Ketua Rukun Tetangga (RT) Desa Selajambe, Cianjur. "Di sini, kami semua bisa tidur di mana saja, yang penting bisa istirahat," kata ibu dua anak ini.


Dia kemudian menunjuk ke unit televisi di tengah ruangan, “Saya tidak bisa menonton televisi lagi. Tidak ada siaran, apakah harus menggunakan kotak (untuk menerima sinyal digital) atau semacamnya? Padahal, televisi bisa menghilangkan stres,” ujarnya. Tati menyeduh kopi yang benar-benar nikmat dari yang kami seduh sendiri. Ternyata dia sudah 20 tahun mendirikan warung kopi di pinggir Jalan Raya Cipanas-Cianjur. Pengalamannya membuatnya mahir menakar dan membuat kopi yang nikmat.


Tati masih trauma, warung kopinya dilanda longsoran akibat gempa berkekuatan 5,6 magnitudo yang mengguncang Cianjur pada 21 November 2022 lalu. Tati beruntung, dari 5 warung, hanya warung kopi Tati yang selamat dari longsor. Dia masih membayangkan ketika tanah dari bukit bergemuruh dan menelan warung-warung di sebelahnya beserta beberapa truk dan angkutan umum yang terparkir di sana.


Di tengah gemuruh tanah yang membawa bebatuan dan batang pohon, Tati yang kebingungan justru pasrah berlindung di depan warungnya. Dia juga tidak menyangka saingan bisnis sekaligus teman sejawatnya ikut terbawa longsoran. "Saat itu saya melihat satu jenazah tetangga saya. Syok sekali, dia adalah teman saya setiap hari, dan sekarang dia meninggal”, kata Tati, wajahnya mendadak muram. Usai longsor, naluri keibuan membuat Tati mencari anaknya. Dia teringat putranya sedang bermain di sungai kecil di pinggir bukit. Dia berteriak sekencang-kencangnya, dan nama anaknya diteriakkan berkali-kali, “Andi! Andi!”

Di tengah keramaian, dia melihat Andi menangis dan mencari ibunya. Dia segera berlari dan memeluk putranya. Meski tertimpa bencana, Tati bersyukur suami dan anaknya yang biasa berada di warung, siang itu sedang pergi. Semua termasuk Tati selamat dari maut, tak terkecuali anak sulungnya yang berada di Warungkondang, Cianjur.

Namun, masalah belum selesai, rumahnya yang berada di Desa Cijedil tak dapat diakses akibat longsor. Beruntung, salah seorang sopir melihat mobil angkutan kota (angkot) biru milik suami Tati parkir di warung ikan bakar pinggir jalan, tak jauh dari tempatnya saat itu. Tak pikir panjang, sekitar jam 8 malam Tati berjalan menuju mobil angkot. Sejam kemudian dia tiba. Sejak siang dia dan anaknya belum makan, tapi selera makan mereka telah hilang. “Saya sampai tidak bisa tidur, saat memejamkan mata, kejadian longsor jadi jelas terbayang”. Maka, malam itu dia hanya bisa berzikir di dalam angkot karena gempa susulan masih terus terjadi. Akses jalan yang terputus membuat Tati dan keluarga harus terjebak di angkot selama dua hari.


Bantuan makanan pun baru tiba Selasa siang (22 Desember 2022). Dia bahkan belum sempat melihat kondisi rumahnya. Dia baru tahu belakangan bahwa rumahnya rusak berat akibat bencana gempa magnitudo 5,6 tersebut. Akhirnya Rabu subuh, jalan raya berhasil dibuka kembali oleh petugas. Meski tersendat Tati sekeluarga akhirnya tiba di kontrakan saudaranya di Desa Selajambe, Cianjur.

Jika sedang melamun, Tati akan memikirkan warungnya di pinggir jalan itu. Dia rindu beraktivitas kembali, “kangennya itu sekarang, saya mah di warung suka kumpul sama ‘anak-anak’ (begitu dia memanggil para sopir yang berkunjung di warungnya). Mereka memanggil saya itu, “emak”, kayak anak sendiri gitu,” kenang Tati.

Dia membuka ponselnya, ada video kiriman ‘anak-anak’ menunjukkan warung Tati yang kini berubah menjadi basecamp petugas penyelamatan gempa. Warung kopi milik Tati sudah seperti rumah kedua. Tiada hari tanpa melayani ‘anak-anaknya’. Dia terkadang tidak pulang karena masih menemani mereka berbicara sampai pagi. Seorang supir angkot bahkan sempat mengirimkan pesan permintaan maaf, ”Mak, maaf enggak bisa berkunjung dulu,” kata pesan yang dikirim sopir itu. “Iya tidak apa-apa, kondisi kita sama, sama-sama susah,” jawab Tati.

Warung kopi yang menjadi mata pencaharian utama kini telah tiada. Tati pesimistis bisa mendirikan warung seperti dulu. Informasi yang beredar, tempat itu akan dikosongkan karena berada di kawasan rawan longsor. Meski diizinkan Kembali, dia masih takut dan trauma.

Hingga kini, setelah dua minggu berada di pengungsian, Tati masih dalam proses menenangkan diri. Namun, Tati adalah perempuan yang mandiri, ia tidak ingin merepotkan adik-adiknya karena terlalu lama menumpang tinggal. Meski belum ada modal dan tempat, ia berharap bisa kembali bekerja. “Saya kalau di warung suka kasih makan ‘anak-anak’. Kalo dipikir-pikir balasan Allah itu langsung sekarang. Alhamdulillah sekarang pas lagi kesusahan, giliran saya yang dikasih makan,” tutupnya.