Diterbitkan pada | Jumat, 05 Juni 2026
.jpg)
Tulisan membuat manusia berbincang melampaui
zamannya.
Seorang juru tulis di Mesopotamia yang hidup
ribuan tahun lalu masih dapat berbicara kepada kita hingga hari ini. Pun
penyusun relief, penulis kitab, atau pengarang yang sudah mangkat. Mereka telah
pergi, tetapi jejak pikirannya tetap tinggal.
Barangkali karena itu, yang bertahan dalam
sejarah sering kali bukan manusia, melainkan catatannya. Kita mengenang
kerajaan dari prasastinya, memahami sebuah masa dari arsipnya, dan melihat
kembali pergulatan tokoh melalui buku-buku yang ditinggalkannya.
Namun ada satu syarat yang kerap luput
diperhatikan: Seseorang harus dapat membaca apa yang diwariskan.
Sebuah teks mungkin melampaui zaman. Kecakapan
untuk membacanya harus terus diperbarui. Ia tak berpindah begitu saja dari satu
generasi kepada generasi berikutnya. Setiap orang harus mempelajari kembali,
sebagaimana tanda dan bunyi yang akhirnya dikenali sebagai huruf.
Persoalan literasi tak pernah selesai. Kita
hidup di tengah dunia yang dipenuhi tulisan, tetapi hubungan dengan aksara
selalu dimulai dari awal. Pada seorang anak yang mengeja kata pertamanya. Pada
seseorang yang perlahan menemukan makna di balik rangkaian bentuk yang semula
tampak asing.
Pikiran itu terlintas ketika saya melihat
hasil uji literasi di SD Inpres Lewintana, Kabupaten Bima.
Pada pengukuran awal, lebih dari separuh siswa
yang dipantau masih berada pada kategori belum bisa membaca. Beberapa bulan
kemudian jumlah itu berkurang. Pada pengukuran berikutnya kembali menurun.
Tabel mencatat adanya pergerakan yang cukup jelas.
Angka dapat memberitahu bahwa sesuatu berubah.
Ia tak selalu mampu menjelaskan bagaimana perubahan itu terjadi. Untuk
menemukan apa yang tak tertangkap pada tabel, saya harus meninggalkan lembar
asesmen dan menuju sebuah rumah di dekat sekolah.
Rumah itu milik Yeti Rosmiyati, guru kelas
lima yang oleh murid-muridnya dipanggil Bu Ti.
Tak banyak yang menandai tempat itu sebagai
ruang belajar. Jumlah anak yang datang berubah-ubah; suatu sore ruang tamunya
terisi belasan murid, pada kesempatan lain hanya beberapa orang yang duduk
mengelilingi buku-buku bacaan.
Saya menemukan sesuatu yang menarik ketika
berdialog. Bu Ti tidak banyak berbicara tentang metode pembelajaran. Ia justru
lebih sering bercerita tentang cara menghadirkan anak-anak ke ruang belajar
itu.
Sebagian perlu diajak, sebagian lain dijemput
dari rumah. Yang datang bukan selalu karena buku, melainkan juga karena hal-hal
yang lebih sederhana: teman yang lebih dulu hadir, pujian dari guru, atau
makanan ringan yang dibagikan setelah kegiatan selesai.
Mula-mula saya menganggap bagian tersebut
hanya sampiran. Namun semakin lama saya membacanya, semakin terasa bahwa
tantangan sebenarnya mungkin berada di sana.
Kita sering membayangkan pendidikan sebagai
hubungan antara guru, murid, dan pelajaran. Padahal sebelum semua itu
berlangsung, ada syarat yang lebih mendasar: seseorang harus hadir terlebih
dahulu.
Di Lewintana, syarat itu tak mudah dipenuhi.
Musim tanam dan panen mengubah ritme kehidupan
sekolah. Sebagian anak mengikuti orang tuanya ke ladang. Kehadiran di kelas
menyusut. Bu Ti bercerita bahwa dari sebelas murid yang tercatat di kelasnya,
pernah hanya dua anak yang datang belajar.
Keterangan itu mengingatkan saya bahwa
kalender pendidikan tidak selalu menjadi penentu utama kehidupan seorang anak.
Di kota, waktu sering diatur oleh bel sekolah.
Di desa pertanian, musim memiliki otoritasnya
sendiri.