Kisah Balita N, Ironi di Desa Penghasil Kopi

Semerbak harum kopi cukup kuat tercium saat memasuki wilayah Desa Harjomulyo. Hamparan kopi yang dijemur di halaman rumah warga adalah pemandangan jamak di desa ini. Kepulan asap dapur di pagi hari serta nyala lampu di malam hari adalah buah kerja penduduk yang sebagian besar bekerja di perkebunan kopi.

Hari itu, di akhir Agustus 2021, YAPPIKA-ActionAid diajak berkunjung ke rumah salah satu warga desa oleh dua kader Posyandu. Rumahnya berada di ujung desa. Setelah melalui jalanan kecil berbatu kasar, kami tiba di sebuah rumah yang cukup bagus untuk ukuran desa tersebut. Halamannya cukup luas dan biasa digunakan untuk menjemur biji kopi. Desa ini adalah salah satu wilayah yang didukung oleh YAPPIKA-ActionAid untuk program pencegahan stunting.

Kedatangan kami disambut canggung oleh pemilik rumah, Ibu M, 39 tahun. Ia mengira kami adalah petugas kesehatan yang datang untuk menyuntik cucunya. Bukan tanpa alasan, petugas kesehatan dan suntik adalah dua hal yang kurang disukai warga desa ini. Mereka masih percaya mitos petugas kesehatan justru membuat anak-anak sakit, karena setelah disuntik anak-anak menjadi panas dan rewel. Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan kami, Ibu M berangsur merasa nyaman. Kami memberitahukan bahwa kami ingin mengetahui keadaaan cucunya, balita N yang menjadi salah satu sasaran PMT (Pemberian Makanan Tambahan) pemulihan.


Mbak Yuli dan Mbak Wiwin, kader posyandu yang bersama kami, menjelaskan bahwa balita N yang berusia 35 bulan, pertumbuhannya masih di bawah garis merah baik berat badan maupun tinggi tubuhnya. Berat ideal balita seusianya seharusnya sudah mencapai 14 kilogram, namun berat badan balita N masih di bawah 10 kilogram. Selain itu, balita N juga sering rewel dan kurang aktif selayaknya balita lain yang sebaya. Menurut Ibu M, kondisi balita N saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya yang sangat kurus karena susah makan. Balita N diurus oleh Ibu M sejak ditinggalkan ibu kandungya 4 bulan lalu.

“Anak saya pergi ke Surabaya, empat bulan yang lalu. Katanya mau kerja. Sampai hari ini tidak ada kabar, tidak bisa dihubungi. Anak ini saya yang urus”, ujar Ibu M sambil mengelus kepala balita N yang berada di pangkuannya.

Balita N, adalah cucu pertama Ibu M dari anak perempuannya yang pertama. Ibu balita N, menikah di usia yang sangat muda saat masih duduk di bangku SMP. Pernikahan di usia muda mengakibatkan kehidupan rumah tangga tidak harmonis. Ibu balita N menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan kemudian berpisah dengan suaminya tak lama setelah kelahiran balita N. Kematangan berpikir yang belum dimiliki ibu balita N, membuatnya mengisolasi diri di dalam kamar. Ia merawat bayi N seorang diri tanpa mau dibantu orang tuanya ,meskipun mereka masih tinggal di dalam satu rumah. Menurut adat kebiasaan warga desa, pengasuhan anak umumnya berada di tangan neneknya. Namun bayi N hingga mencapai usia balita, dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan dipegang oleh siapapun selain ibunya. Makanan yang diberikan juga sekedarnya dan tidak teratur. Balita N hanya diberi makan saat ibunya ingin memberi makan. Hal tersebut yang membuat pertumbuhan balita N tertinggal dari balita lain sebayanya.

Sejak ditinggalkan ibunya balita N diasuh nenek dan buyutnya. Dalam pengasuhan neneknya, berat badan balita N sedikit demi sedikit mulai naik. Namun, masih banyak hal yang harus dikejar dalam pertumbuhannya baik secara jasmani maupun rohani.

Balita N menjadi salah satu sasaran bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan bersama sejumlah balita lainnya di Desa Harjomulyo agar mereka segera pulih dari stunting dan gizi

buruk. Kondisi ekonomi bukan menjadi penyebab utama banyaknya kasus balita stunting. Di desa penghasil kopi ini, kondisi ekonomi rata-rata warganya cukup baik dan mampu untuk memberikan makanan bergizi bagi balita. Namun persoalan adat kebiasaan,pola asuh dan sanitasi yang kurang baik menjadi faktor penyumbang terjadinya kasus stunting.


Di akhir perbincangan dengan Ibu M, kami memberitahu bahwa melalui kader posyandu kami akan memberikan PMT pemulihan untuk balita N. PMT pemulihan diberikan dua kali dalam sehari selama 30 hari. Kader Posyandu akan menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak dan berkunjung setiap hari ke rumah-rumah untuk memberikan makanan tambahan tersebut serta memastikan bahwa si anak memakan makanannya hingga habis.Pemberian PMT pemulihan bertujuan untuk memenuhi gizi balita sehingga dapat mencapai berat dan tinggi badan ideal.

“Terima kasih”, ujar Ibu M sambil tersenyum ramah saat kami berpamitan. Hilang sudah rasa canggung di awal pertemuan kami.


Tag :