A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mysqli::real_connect(): Headers and client library minor version mismatch. Headers:100337 Library:30120

Filename: mysqli/mysqli_driver.php

Line Number: 203

Backtrace:

File: /home/yappikaa/public_html/application/core/MY_Controller.php
Line: 20
Function: __construct

File: /home/yappikaa/public_html/application/controllers/Router.php
Line: 17
Function: __construct

File: /home/yappikaa/public_html/index.php
Line: 322
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: mysqli::real_connect(): Headers and client library minor version mismatch. Headers:100337 Library:30120

Filename: mysqli/mysqli_driver.php

Line Number: 203

Backtrace:

File: /home/yappikaa/public_html/application/third_party/ion_auth/models/Ion_auth_model.php
Line: 186
Function: database

File: /home/yappikaa/public_html/application/third_party/ion_auth/libraries/Ion_auth.php
Line: 71
Function: model

File: /home/yappikaa/public_html/application/core/MY_Controller.php
Line: 24
Function: library

File: /home/yappikaa/public_html/application/controllers/Router.php
Line: 17
Function: __construct

File: /home/yappikaa/public_html/index.php
Line: 322
Function: require_once

Yappika Actionaid

Pejuang Jalur Evakuasi: Mengubah Trauma Menjadi Ketangguhan

Diterbitkan pada | Senin, 08 Agustus 2022


“Hallo…perkenalkan nama saya Ade Herlina, panggil saja Ade,” awal obrolan kami dengan Bu Ade. Orangnya ramah dan murah senyum, tidak butuh waktu lama untuk merasa dekat dan pembicaraan pun mengalir begitu saja. Bu Ade saat ini berusia 31 tahun, ibu dari 2 anak, sehari-hari selain mengurus kedua anaknya, Bu Ade juga bekerja bersama suami ke sawah saat dibutuhkan. 

“Kekhawatiran kami sebagai petani saat ini adalah iklim yang tidak menentu. Contohnya tahun ini, sudah masuk bulan Juni dan kami baru mau panen. Setelah ini masih belum terbayang apakah bisa menanam lagi, karena sistem pertanian disini masih mengandalkan hujan dan air sungai, belum ada irigasi,” papar bu Ade ketika pembicaraan membahas panen dan aktifitas di sawah. Padahal dulunya dalam 1 tahun Bu Ade bisa panen padi sampai 3 kali.

Tidak hanya jumlah panen yang tidak jelas, hasil panenpun mengalami penurunan drastis. “Dulu untuk lahan yang saya punya saya bisa panen sebanyak 15 karung gabah, sekarang hasilnya hanya 7 karung, turun lebih dari separo panennya, bahkan pernah saya dan suami hanya membawa gabah sebanyak 2 karung saja.”


“Selain karena cuacanya tidak bisa diperkirakan, sekarang juga banyak serangan hama dan penyakit padi, yang susah dikendalikan. Kadang kami harus menggunakan dulu jatah uang jajan atau uang beli susu anak untuk membeli pupuk dan pestisida, dengan harapan nanti diganti saat panen. Namun pada kenyataannya hasil panennya tidak menutupi modal yang sudah dikeluarkan.” Permasalahan Bu Ade dan petani lain di Tamanjaya hampir sama. Iklim, hama dan penyakit padi berdampak pada kondisi ekonomi mereka dan letak Desa Tamanjaya yang berada pada zona merah bencana membuat permasalahan hidup mereka menjadi lebih berat. 

Pengalaman berjuang menyelamatkan diri saat terjadinya tsunami 2018, meninggalkan jejak traumatis yang cukup dalam bagi Bu Ade. “Saya hamil besar, lari tak tentu arah sambil menggendong anak, suami entah dimana, keluarga terpisah-pisah, keadaan itu benar-benar menguras emosi dan energi. Berada ditengah situasi kalang-kabut dengan kondisi hamil, harus saling mencari bukanlah keadaan yang diinginkan semua orang. Andai ada jalur evakuasi, semuanya akan lebih terkendali dan kita semua bisa merencanakan langkah apa yang harus diambil dengan kepala dingin.” 

Bersama ibu-ibu yang tergabung dalam Forum Perempuan Kampung Paniis, pada tahun 2020 Bu Ade mengusulkan jalur evakuasi ke pemerintahan desa melalui Musrembang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Usulan tersebut diterima dan pemerintahan desa memahami pentingnya jalur evakuasi sebagai upaya tanggap darurat. 

“Jalur evakuasi ini digunakan sebagai tindakan penyelamatan dari bencana, terutama di daerah kami yang termasuk zona merah. Tak satupun dari kita menginginkan bencana, atau bisa meramalkan kapan terjadinya. Semakin cepat waktu evakuasi yang dapat dilakukan, semakin besar jumlah orang yang selamat dari bencana,” Bu Ade menjelaskan dengan rinci. Kepedulian ini muncul karena bu Ade tidak ingin mengulangi pengalaman traumatis saat terjadi bencana.

Baru setelah bencana gempa bumi awal tahun 2022, pembangunan jalur evakuasi dapat terealisasi. Bersama ibu-ibu lain, Bu Ade ikut membantu warga mengangkut material seperti abu, batu dan paving blok dengan menggunakan arco dan ember dari jalan raya sampai ke jalur evakuasi yang sedang dibangun. Di kesempatan lain beliau membantu menyediakan makanan untuk warga yang bekerja membangun jalur. 

“Semangat gotong royong demi kepentingan bersama begitu terasa. Bahumembahu kami membangun jalur evakuasi dan mensosialisasikan tahapan evakuasi jika terjadi bencana. Masyarakat Tamanjaya semuanya sudah paham prosedur evakuasi dan keperluan apa saja yang harus disiapkan disetiap rumah seperti tas siaga dan lain-lain,” jelas bu Ade dengan wajah sumringah dan mata berbinar. “Setidaknya, saat ini kami lebih siap jika terjadi bencana. Mau tidak mau kita harus bersahabat dengan kondisi alam dan dengan pemahaman yang tepat, kita bisa fokus pada sektor lain seperti pengembangan ekonomi keluarga.”


Adanya jalur evakuasi ini membuat masyarakat lebih tenang tinggal dan hidup Tamanjaya, sebuah desa pinggir laut tapi dengan suasana pegunungan yang kental, udara dan air yang segar. Siapa yang tidak betah melihat pemandangan sawah, pegunungan dan laut biru diwaktu yang bersamaan.