Diterbitkan pada | Selasa, 17 Maret 2026
Cibatu, Garut – 17 Maret 2026. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial, kemampuan memproduksi konten yang informatif, edukatif, dan bertanggung jawab menjadi salah satu keterampilan penting bagi generasi muda. Menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan SEMAK bersama YAPPIKA-ActionAid menyelenggarakan Pelatihan Konten Kreator sebagai bagian dari implementasi Program Desa Sehat 2026 di Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan
kapasitas peserta dalam memanfaatkan media digital tidak hanya sebagai ruang
berekspresi, tetapi juga sebagai sarana edukasi, advokasi, dan penyebarluasan
informasi mengenai isu kesehatan, perlindungan perempuan dan anak, pencegahan
perkawinan anak, serta berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat desa.
Gambar 1. Narasumber menyampaikan materi
kepada peserta Pelatihan Konten Kreator.
Pelatihan
dibuka oleh Nenden Rosita selaku Field Officer Program Desa Sehat Yayasan SEMAK
yang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari keberlanjutan
Program Desa Sehat yang telah berjalan sejak tahun sebelumnya. Melalui Kerjasama
Yayasan SEMAK dengan YAPPIKA-ActionAid dalam Program Desa Sehat, peningkatan
kapasitas anak muda, diharapkan mampu memperkuat penyebaran informasi yang
positif dan berdampak bagi lingkungan sekitar.
Pemerintah Desa Cibunar juga
menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan kerja sama tersebut dan berharap
seluruh target program dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan
dari berbagai pihak menjadi fondasi penting dalam mewujudkan desa yang lebih
sehat, inklusif, dan partisipatif.
Gambar 2. Sesi mentoring kelompok kecil.
Dalam sesi
materi, narasumber Rio Noor Syifa dengan latar belakang sebagai filmmaker dan
professional colorist mengajak peserta memahami bahwa menjadi konten
kreator bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar popularitas. Lebih dari itu,
seorang kreator memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang
akurat, bernilai, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Melalui diskusi interaktif, peserta
berbagi pengalaman mengenai penggunaan berbagai platform digital seperti
TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Salah satu peserta bahkan telah
memanfaatkan media sosial untuk membagikan konten bertema alam dan pendakian
yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi inspirasi bagi peserta
lainnya.
Pelatihan tidak hanya membahas
konsep dasar, tetapi juga mengajak peserta memahami tahapan penyusunan konten
secara sistematis. Materi mencakup penentuan target audiens, identifikasi
kebutuhan informasi, riset, penyusunan naskah, pembangunan identitas atau
branding, hingga strategi penyampaian pesan yang efektif.
Selain itu,
peserta dikenalkan pada pentingnya menghadirkan nilai tambah dalam setiap
konten agar mampu memberikan manfaat sekaligus membangun kepercayaan audiens.
Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan konten yang relevan dengan
kebutuhan masyarakat desa dan mampu memperkuat tujuan Program Desa Sehat.
Gambar 4. Suasana pemaparan materi di kelas.
Sebagai bagian dari pembelajaran
praktis, peserta mempraktikkan proses penyuntingan video menggunakan aplikasi
CapCut. Mulai dari penyusunan klip, pemotongan gambar, penambahan teks, musik,
hingga efek visual diperkenalkan secara langsung agar peserta memiliki
pengalaman teknis dalam memproduksi konten yang menarik dan mudah dipahami.
Sesi praktik ini memberikan
kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan produksi secara mandiri
sekaligus memahami bagaimana menyampaikan pesan secara efektif melalui media
digital.
“Konten yang bagus nggak harus selalu dibuat dengan peralatan mahal. Mulailah dari yang ada, temukan gaya sendiri, dan terus konsisten berkarya,” ucap narasumber yang akrab disapa Kang Rio.
Gambar 5. Peserta menyimak materi dengan
antusias.
Sebagai bentuk rencana tindak lanjut yang nyata, para
peserta pelatihan di Kabupaten Garut menyepakati komitmen bersama untuk
memproduksi konten edukatif secara konsisten. Narasi digital yang mereka bangun
difokuskan pada empat pilar persoalan sosial esensial berikut:
Perubahan struktural tidak selalu dimulai dari ketukan palu undang-undang di pusat kota, ia sering kali lahir dari kesadaran kolektif warga yang berani bersuara di tingkat akar rumput, termasuk melalui kekuatan solidaritas digital.
Pelatihan di Garut ini adalah langkah awal. Namun, memastikan agar lentera edukasi di puluhan desa dampingan lainnya tidak padam membutuhkan napas pendampingan yang konsisten. Mari ambil bagian menjadi penyangga mimpi mereka untuk mewujudkan desa sehat yang merata. Anda bisa ikut berkontribusi dengan memberikan donasi untuk Program Desa Sehat.